Wejangan dari Aksara Jawa

Oleh : BRM Panji Anom Resiningrum

 

Huruf atau carakan Jawa yakni ha na ca ra ka dan seterusnya merupakan sabda pangandikanipun) dari Tuhan YME di tanah Jawa.

 

A. Pembukaan Huruf Jawa

 

1. Huruf Ha

 

Berarti ‘hidup’, atau huruf berarti juga ada hidup, sebab memang hidup itu ada, karena ada yang menghidupi atau yang memberi hidup, hidup itu adalah sendirian dalam arti abadi atau langgeng tidak terkena kematian dalam menghadapi segala keadaan. Hidup tersebut terdiri atas 4 unsur yaitu:

a. Api

b. Angin

c. Bumi

d. Air

 

 

2. Huruf Na

 

Berari ‘nur’ atau cahaya, yakni cahaya dari Tuhan YME dan terletak pada sifat manusia.

 

 

3. Huruf Ca

 

Berarti ‘cahaya’, artinya cahaya di sini memang sama dengan cahaya yang telah disebutkan di atas. Yakni salah satu sifat Tuhan yang ada pada manusia. Kita telah mengetahui pula akan sifat Tuhan dan sifat-sifat tersebut ada pada yang dilimpahkan Tuhan kepada manusia karena memang Tuhan pun menghendaki agar manusia itu mempunyai sifat baik.

 

 

4. Huruf Ra

 

Berarti ‘roh’, yaitu roh Tuhan yang ada pada diri manusia.

 

 

5. Huruf Ka

 

Berarti ‘berkumpul’, yakni berkumpulnya Tuhan YMEyang juga terletak pada sifat manusia.

 

 

6. Huruf Da

 

Berarti ‘zat’, ialah zatnya Tuhan YME yang terletak pada sifat manusia.

 

 

7. Huruf Ta

 

Berarti ‘tes’ atau tetes, yaitu tetes Tuhan YME yang berada pada manusia.

 

 

8. Huruf Sa

 

Berarti ‘satu’. Dalam hal ini huruf sa tersebut telah nyata menunjukkan bahwa Tuhan YME yaitu satu, jadi tidak ada yang dapat menyamai Tuhan.

 

 

9. Huruf Wa

 

Berarti ‘wujud’ atau bentuk, dalam arti ini menyatakan bahwa wujud atau bentuk Tuhan itu ada dalam manusia yang setelah bertapa kurang lebih 9 bulan dalam gua garba ibu lalu dilahirkan dalam wujud diri.

 

 

10. Huruf La

 

Berarti ‘langgeng’ atau ‘abadi’, la yang mengandung arti langgeng ini juga nyata menunjukkan bahwa hanya Tuhan YME sendirian yang langgeng di dunia ini, berarti abadi pula untuk selama-lamanya.

 

 

11. Huruf Pa

 

Berarti ‘papan’ atau ‘tempat’, yaitu papan Tuhan YME-lah yang memenuhi alam jagad raya ini, jagad gede juga jagad kecil (manusia).

 

 

12. Huruf Dha

 

Berarti dhawuh, yiatu perintah-perintah Tuhan YME inilah yang terletak dalam diri dan besarnya Adam, manusia yang utama.

 

 

13. Huruf Ja

 

Berarti ‘jasad’ atau ‘badan’. Jasad Tuhan YME itu terletak pada sifat manusia yang utama.

 

 

14. Huruf Ya

 

Berarti ‘dawuh’. Dawuh di sini mempunyai lain arti dengan dhawuh di atas, karena dawuh berarti selalu menyaksikan kehendak manusia baik yang berbuat jelek maupun yang bertindak baik yang selalu menggunakan kata-katanya “Ya”.

 

 

15. Huruf Nya

 

Berarti ‘pasrah’ atau ‘menyerahkan’. Jelasnya Tuhan YME dengan ikhlas menyerahkan semua yang telah tersedia di dunia ini.

 

 

16. Huruf Ma

 

Berarti ‘marga’ atau ‘jalan’. Tuhan YME telah memberikan jalan kepada manusia yang berbuat jelek dan baik.

 

 

17. Huruf Ga

 

Berarti ‘gaib’, gaib dari Tuhan YME inilah yang terletak pada sifat manusia.

 

 

18. Huruf Ba

 

Berarti ‘babar’, yaitu kabarnya manusia dari gaibnya Tuhan YME.

 

 

19. Huruf Tha

 

Berarti ‘thukul’ atau ‘tumbuh’. Tumbuh atau adanya gaib adalah dari kehendak Tuhna YME. Dapat pula dikatakan gaib adalah jalan jauh tanpa batas, dekat tetapi tidak dapat disentuh, seperti halnya cahaya terang tetapi tidak dapat diraba atau pun disentuh, dan harus diakui bahwa besarnya gaib itu adalah seperti debu atau terpandang. Demikianlah gaibnya Tuhan YME itu (micro binubut).

 

 

20. Huruf Nga

 

Berarti ‘ngalam’, ‘yang bersinar terang’, atau terang/gaib Tuhan YME yang mengadakan sinar terang.

 

Demikianlah huruf Jawa yang 20 itu dan ternyata dapat digunakan sebagai lambang dan dapat diartikan sesuai dengan sifat Tuhan sendiri, karena memang seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa Jawa yang menggunakan huruf Jawa itupun merupakan sabda dari Tuhan YME.

 

 

Huruf atau carakan Jawa yakni ha na ca ra ka dan seterusnya merupakan sabda pangandikanipun) dari Tuhan YME di tanah Jawa.

 

 

B. Penyatuan Huruf atau Aksara Jawa 20

 

 

1. Huruf Ha + Nga

 

Hanga berarti angan-angan.

 

 

Dimaksudkan dengan angan-angan ini ialah panca indra yaitu lima indra, seperti:

 

1. Angan-angan yang terletak di ubun-ubun (kepala) yang menyimpan otak untuk memikir akan keseluruhan keadaan.

 

2. Angan-angan mata yang digunakan untuk melihat segala keadaan.

 

3. Angan-angan telinga yang dipakai untuk mendengar keseluruhan keadaan.

 

4. Angan-angan hidung untuk mencium/membau seluruh keadaan.

 

5. Angan-angan mulut yang digunakan untuk merasakan dan mengunyah makanan.

 

 

2. Huruf Na + Ta

 

Noto, berarti ‘nutuk’.

 

 

3. Huruf Ca + Ba

 

Caba, berarti coblong (lobang) dan kata tersebut di atas berarti wadah atau tampat yang dimilki oleh lelaki atau wanita saat menjalin rasa menjadi satu; adanya perkataan kun berarti pernyataan yang dikeluarkan oleh pria dan wanita dalam bentuk kata ya dan ayo dan kedua kata tersebut mempunyai persamaan arti dan kehendak yaitu mau.

 

 

4. Huruf Ra + Ga

 

Raga, berarti ‘badan awak/diri’. Kata raga atau ragangan merupakan juga kerangka dan kehendak pria dan wanita ketika menjalin rasa menjadi satu karena bersama-sama menghendaki untuk menciptakan raga atau diri agar supaya dapat terlaksana untuk mendapatkan anak.

 

 

5. Huruf Ka + Ma

 

Kama, berarti ‘komo’ atau biji, bibit, benih. Setiap manusia baik laki-laki atau wanita pastilah mengandung benih untuk kelangsungan hidup; oleh karena itu di dalam kata raga seperti terurai di atas merupakan kehendak pria dan wanita untuk menjalin rasa menjadi satu. Karena itulah maka kata raga telah menunjukkan adanya kedua benih yang akan disatukan dengan melewati raga, dan dengan penyatuan kama dari kedua belah pihak itu maka kelangsungan hidup akan dapat tercapai.

 

 

6. Huruf Da + Nya

 

Danya atau donya atau dunia.

 

Persatuan kedua benih atau kama tadi mengakibatkan kelahiran, dan kelahiran ini merupakan calon keturunan di dunia atau (alam) donya; dengan demikian dapat dipahami kalau atas kehendak Tuhan YME maka diturunkanlah ke alam dunia ini benih-benih manusia dari Kahyangan dengan melewati penyatuan rasa kedua jenis manusia.

 

 

7. Huruf Ta + Ya

 

Taya atau toya, yaitu ari atau banyu. Kelahiran manusia (jabang bayi) diawali dengan keluarnya air (kawah) pun pula kelahiran bayi tersebut juga dijemput dengan air (untuk membersihkan, memandikan dsb); karena itulah air tersebut berumur lebih tua dari dirinya sendiri disebut juga mutmainah atau sukma yang sedang mengembara dan mempunyai watak suci dan adil.

 

 

8. Huruf Sa + Ja

 

Saja atau siji atau satu. Pada umumnya kelahiran manusia (bayi) itu hanya satu, andaikata jadi kelahiran kembar maka itulah kehendak Tuhan YME. Dan kelahiran satu tersebut menunjukkan adanya kata saja atau siji atau satu.

 

 

9. Huruf Wa + Da

 

Wada atau wadah atau tempat. Berbicara tentang wadah atau tempat, sudah seharusnya membicarakan tentang isi pula, karena kedua hal tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan. Dengan demikian timbul pertanyaan mengenai wadah dan isi, siapakah yang ada terlebih dahulu.

Pada umumnya dikatakan kalau wadah harus diadakan terlebih dahulu, baru kemudian isi, sebenarnya hal ini adalah kurang benar. Yang diciptakan terlebih dahulu adalah isi, dan karena isi tersebut membutuhkan tempat penyimpanan, maka diciptakan pula wadahnya. Jangan sampai menimbulkan kalimat “Wadah mencari isi” akan tetapi haruslah “Isi mencari wadah” karena memang ‘isi’ diciptakan terlebih dahulu.

 

 

Sebagai contoh dapat diambilkan di sini: rumah, sebab rumah merupakan wadah manusia, dan manusia merupakan isi dari rumah. Jadi jelaslah bahwa sebenarnya isilah yang mencari wadah.

Sebagai bukti dari uraian di atas, dapatlah dijelaskan bahwa: kematian manusia berarti (raga) ditinggalkan isi (hidup). Bagai pendapat yang mengatakan “wadah terlebih dahulu diciptakan” maka mengenai kematian itu seharusnya wadah mengatakan supaya isi jangan meniggalkan terlebih dahulu sebelum wadah mendahului meninggalkan. Hal ini jelas tidak mungkin terjadi, apalagi kalau kematian itu terjadi dalam umur muda dimana kesenangan dan kepuasan hidup tersebut belum dialaminya.

 

 

Demikianlah persoalan wadah ini dengan dunia, karena sebelum dunia ini diciptakan (sebagai wadah) maka yang telah ada adalah (isinya) Tuhan YME. Pendapat lain mengatakan kalau sebelum diadakan jalinan rasa maka keadaan masih kosong (awangawung). Tetapi setelah jalinan rasa dilaksanakan oleh pria dan wanita maka meneteslah benih dan apabila benih tadi mendapatkan wadahnya akan terjadi kelahiran. Sebaliknya kalau wadah tersebut belum ada maka kelahiran pun tidak akan terjadi, yang bearti masih suwung atau kosong. Meskipun begitu, “hidup’ itu tetap telah ada demikian pula “isi’, dan dimanakah letak isi tadi ialah pada ayah dan ibu. Maka selama ayah dan ibu masih ada maka hidup masih dapat membenihkan biji atau bibit.

 

 

10. Huruf La + Pa

 

Lapa atau mati atau lampus. Semua keadaan yang hidup selalu dapat bergerak, keadaan hidup tesebut kalau ditinggal oleh hidup maka disebut dengan mati. Sebenarnya pemikiran demikian itu tidak benar, akan tetapi kesalahan tadi telah dibenarkan sehingga menjadi salah kaprah. Sebab yang dikatakan mati tadi sebenarnya bukanlah kematian sebenarnya, akan tetapi hidup hanyalah meninggalkannya saja yaitu untuk mengembalikan semua ke asalnya, hidup kembali kepada yang menciptakan hidup, karena hidup berasal dari suwung sudah tentu kembali ke suwung atau kosong (awangawung) lagi. Akan tetapi sebenarnya dapatlah dikatakan bahwa suwung itu tetap ada sedangkan raga manusia yang berasal pula dari tanah akan kembali ke tanah (kuburan) pula.

Misteri Gunung Merapi

 

Menyusul hebohnya berita tentang bencana meletusnya gunung merapi yang menewaskan pulhan orang, termasuk sang juru kunci, Mbah Marijan, saya melelui tulisan ini akan mencoba memberikan sedikit ulasan tentang sisi lain gunung merapi… Let’s read it :

GUNUNG Merapi dipercaya sebagai tempat keraton makhluk halus. Panembahan Senopati pendiri kerajaan Mataram memperoleh kemenangan dalam perang melawan kerajaan Pajang dengan bantuan penguasa Merapi. Gunung Merapi meletus hingga menewaskan pasukan tentara Pajang, sisanya lari pontang-panting ketakutan. Penduduk yakin bahwa Gunung Merapi selain dihuni oleh manusia juga dihuni oleh makhluk- makhluk lainnya yang mereka sebut sebagai bangsa alus atau makhluk halus.

Penduduk di daerah Gunung Merapi mempunyai kepercayaan tentang adanya tempat-tempat angker atau sakral. Tempat angker tersebut dipercayai sebagai tempat-tempat yang telah dijaga oleh mahkluk halus, dimana itu tidak dapat diganggu dan tempat tersebut mempunyai kekuatan gaib yang harus dihormati. Penduduk pantang untuk melakukan kegiatan seperti menebang pohon, merumput dan mengambil ataupun memindahkan benda-benda yang ada di daerah tersebut. Selain pantangan tersebut ada juga pantangan untuk tidak berbicara kotor, kencing atau buang air besar, karena akan mengakibatkan rasa tersinggung makhluk halus yang mendiami daerah itu.

Tempat-tempat yang paling angker di Gunung Merapi adalah kawah Merapi sebagai istana dan pusat keraton makhluk halus Gunung Merapi. Di bawah puncak Gunung Merapi ada daerah batuan dan pasir yang bernama “Pasar Bubrah” yang oleh masyarakat dipercaya sebagai tempat yang sangat angker. “Pasar Bubrah” tersebut dipercaya masyarakat sebagai pasar besar Keraton Merapi dan pada batu besar yang berserakan di daerah itu dianggap sebagai warung dan meja kursi makhluk halus.

Bagian dari keraton makhluk halus Merapi yang dianggap angker adalah Gunung Wutoh yang digunakan sebagai pintu gerbang utama Keraton Merapi. Gunung Wutoh dijaga oleh makhluk halus yaitu “Nyai Gadung Melati” yang bertugas melindungi linkungan di daerah gunungnya termasuk tanaman serta hewan.

Selain tempat yang berhubungan langsung dengan Keraton Merapi ada juga tempat lain yang dianggap angker. Daerah sekitar makam Sjech Djumadil Qubro merupakan tempat angker karena makamnya adalah makam untuk nenek moyang penduduk dan itu harus dihormati.

Selanjutnya tempat-tempat lain seperti di hutan, sumber air, petilasan, sungai dan jurang juga dianggap angker. Beberapa hutan yang dianggap angker yaitu “Hutan Patuk Alap-alap” dimana tempat tersebut digunakan untuk tempat penggembalaan ternak milik Keraton Merapi, “Hutan Gamelan dan Bingungan” serta “Hutan Pijen dadn Blumbang”. Bukit Turgo, Plawangan, Telaga putri, Muncar, Goa Jepang, Umbul Temanten, Bebeng, Ringin Putih dan Watu Gajah.

Beberapa jenis binatang keramat tinggal di hutan sekeliling Gunung Merapi dimiliki oleh Eyang Merapi. Binatang hutan, terutama macan putih yang tinggal di hutan Blumbang, pantang ditangkap atau dibunuh. Selanjautnya kuda yang tinggal di hutan Patuk Alap-alap, di sekitar Gunung Wutoh, dan di antara Gunung Selokopo Ngisor dan Gunung Gajah Mungkur adalah dianggap/dipakai oleh rakyat Keraton Makhluk Halus Merapi sebagai binatang tunggangan dan penarik kereta.

Di puncak Merapi ada sebuah Keraton yang mirip dengan keraton Mataram, sehingga di sini ada organisasi sendiri yang mengatur hirarki pemerintahan dengan segala atribut dan aktivitasnya. Keraton Merapi itu menurut kepercayaan masyarakat setempat diperintah oleh kakak beradik yaitu Empu Rama dan Empu Permadi.

Seperti halnya pemerintahan sebagai sebagai Kepala Negara (Empu Rama dan Empu Permadi) melimpahkan kekuasaannya kepada Kyai Sapu Jagad yang bertugas mengatur keadaan alam Gunung Merapi. Berikutnya ada juga Nyai Gadung Melati, tokoh ini bertugas memelihara kehijauan tanaman Merapi. Ada Kartadimeja yang bertugas memelihara ternak keraton dan sebagai komando pasukan makhluk halus. Ia merupakan tokoh yang paling terkenal dan disukai penduduk karena acapkali memberi tahu kapan Merapi akan meletus dan apa yang harus dilakukan penduduk untuk menyelamatkan diri. Tokoh berikutnya Kyai Petruk yang dikenal sebagai salah satu prajurit Merapi.

Begitu besarnya jasa-jasa yang telah diberikan oleh tokoh-tokoh penghuni Gunung Merapi, maka sebagai wujud kecintaan mereka dan terima kasih terhadap Gunung Merapi masyarakat di sekitar Gunung Merapi memberikan suatu upeti yaitu dalam bentuk upacara-upacara ritual keagamaan. Sudah menjadi tradisi keagamaan orang Jawa yaitu dengan mengadakan selamatan atau wilujengan, dengan melakukan upacara keagamaan dan tindakan keramat.

Upacara Selamatan Labuhan diadakan secara rutin setiap tahun pada tanggal kelahiran Sri Sultan Hamengku Buwono X yakni tanggal 30 Rajab. Upacara dipusatkan di dusun Kinahrejo desa Umbulharjo. Di sinilah tinggal sosok Mbah Marijan sebagai juru kunci Gunung Merapi yang sering bertugas sebagai pemimpin upacara labuhan. Gunung Merapi dan Mbah Marijan adalah dua hal yang sulit dipisahkan. Keberadaan lelaki tua Mbah Marijan dan kawan-kawannya itulah manusia lebih, mau membuka mata dan telinga batinnya untuk melihat apa yang tidak kasad mata di sekitar Gunung Merapi.

Di Selo setiap tahun baru Jawa 1 Suro diadakan upacara Sedekah Gunung, dengan harapan masyarakat menjadi aman, tentram dan sejahtera, dengan panen yang melimpah. Upacara ini disertai dengan menanam kepala kerbau di puncak Merapi atau di Pasar Bubrah.
Anda percaya atau tidak? Wallahu’alam Bissowab..

Sumber : harian pos metro balikpapan

Contoh RPP Pembelajaran Tematik

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN TEMATIK

KELAS                       :        II

SEMESTER               :        1

TEMA                        :        KEGIATANKU

ALOKASI WAKTU   :        3 MINGGU


  1. KOMPETENSI DASAR
    1. PKN

Mengenal pentingnya hidup rukun dan bergotong-royong dalam kehidupan di

Lingkungan

  1. BAHASA INDONESIA

Mendengarkan: Mendeskripsikan isi puisi.

Berbicara: Mendeklamasikan puisi dengan ekspresi yang tepat.

Membaca: Menjelaskan isi puisi anak yang dibaca.

Menulis: Menulis kalimat sederhana yang didiktekan guru dengan menggunakan

huruf tegak bersambung dan memperhatikan penggunaan huruf kapital dan tanda titik.

  1. MATEMATIKA

Menentukan nilai bilangan

  1. ILMU PENGETAHUAN ALAM .

Mengidentifikasi pertumbuhan hewan dan tumbuhan

  1. ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

Menceritakan hal-hal penting yang berhubungan dengan suatu peristiwa

  1. ORJASKES

Mempraktekkan senam ketangkasan sederhana

  1. SENI BUDAYA DAN KETRAMPILAN

Mengekspresikan diri melalui gambar ekspresif.

  1. INDIKATOR
  2. PKN
  • Melaksanakan pemeliharaan lingkungan alam
  • Melaksanakan hidup rukun, saling berbagi dan tolong-menolong
  1. BAHASA INDONESIA
  • Menyebutkan kembali isi teks pendek
  • Bertanya kepada orang lain dengan menggunakan pilihan kata yang tepat
  • Melengkapi cerita sederhana dengan kata yang tepat
  • Menulis kalimat sederhana yang didiktekan
  • Menceritakan kegiatan sehari-hari
  • Mendeskripsikan isi puisi
  1. MATEMATIKA
  • Menentukan nilai tempat ratusan, puluhan dan satuan
  1. ILMU PENGETAHUAN ALAM
  • Mengidentifikasi perubahan yang terjadi pada pertumbuhan hewan (dalam ukuran) dan tumbuhan (dari biji menjadi tanaman)
  1. ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
  • Memelihara dokumen dan koleksi benda berharga
  • Memanfaatkan dokumen dan benda penting keluarga sebagai sumber cerita
  • Menceritakan peristiwa penting dalam keluarga
  1. ORJASKES
  • Mempraktikkan senam ketangkasan sederhana tanpa menggunakan alat
  • Mempraktikkan senam ketangkasan sederhana dengan menggunakan alat
  1. SENI BUDAYA DAN KETRAMPILAN
  • Mengekspresikan diri melalui gambar ekspresif
  • Mengidentifikasi unsur musik dari berbagai sumber bunyi yang dihasilkan
  • oleh benda bukan alat musik
  • Memeragakan dinamik sederhana
  • Mengekspresikan diri melalui alat musik/ sumber bunyi sederhana
  1. LANGKAH LANGKAH PEMBELAJARAN
  2. KEGIATAN AWAL
    1. Doa bersama
    2. Absensi siswa
    3. Appersepsi
    4. KEGIATAN INTI
      1. Menyebutkan perbuatan yang baik dan tidak baik
      2. Menyebutkan bentuk kasih sayang kepada sesama
      3. Menyebutkan cara-cara merawat tanaman
      4. Membaca teks perayaan hari kemerdekaan
      5. Menjawab pertanyaan teks
      6. Menghitung jumlah biji
      7. Melengkapi bilangan
      8. Membuat permainan tebak-tebakan jumlah biji pada tangan
      9. Membandingkan jumlah benda untuk menyatakan lebih sedikit atau lebih

banyak

10.  Memperhatikan pertumbuhan pohon kacang

11.  Menulis hasil pengamatan pertumbuhan tumbuhan

12.  Membaca bacaan dengan suara nyaring.

13.  Menjawab pertanyaan dari bacaan

14.  Memperagakan suatu percakapan

15.  Mengurutkan gambar

16.  Melengkapi kalimat dengan kata yang ada

17.  Menirukan gerakan senam

18.  Memperagakan senam secara berkelompok dengan iringan musik

19.  Melengkapi gambar dan mewarnainya

(Langkah-Jangkah kegiatan disesuaikan dengan jadwal pelajaran masing

masing sekoIah)

  1. KEGIATAN AKHIR
    1. Siswa melaksanakan tugas portofolio
  1. METODE, SUMBER, MEDIA PEMBELAJARAN
  2. METODE
  • Ceramah
  • Tanya Jawab
  • Demonstrasi
  • Tugas
  • Game
  1. ALAT/MEDIA DAN SUMBER
  • Buku Tematik Kelas IIA
  • (Terdiri dari PKN, B. Indonesia, Matematika, IPA, IPS, ORJASKES, Seni

Budaya dan Ketrampilan)

  • Pengembangan Guru
  • Gambar-gambar yang relevan
  1. PENILAIAN
  2. Lisan
  3. Tertulis
  4. Perbuatan
  5. Portofolio

S

Mengetahui,                                                                                  …….., …………………20….

Kepala Sekolah                                                                                    Guru Kelas II

……………………….                                                                ……………………….

NIP………………………                                                          NIP………………………

Lampiran media ORJASKES

☺                                                                                                                                                                                     Senam tanpa menggunakan alat

Lampiran media IPA

☺                                                                                                                                                                 Pertumbuhan kacang

Lampiran media BAHASA INDONESIA

☺                                                                                                                                                                                               Puisi anak

BONEKAKU SUSAN

Karya : Nabila nurkhalishah Harris

Dulu aku punya boneka
Namanya susan
Dia kutaruh di kamar
Tetapi kata papahku
Mendingan ditaruh di kebun
Untuk anak ciloang
Lalu aku memberikannya
Sambil berkata
’tapi nanti boleh beli boneka susan yang baru, ya!’

Lampiran media seni budaya dan ketrampilan

Lampiran media matematika

☺    Urutkan mulai dari angka terbesar hingga terkecil :

34           87           78 43        54

321           212          487        345      351

☺                                                 Urutkan mulai dari angka terkecil hingga terbesar :

119          98           86           137            88

443            272       144        372            099

Paramasastra Bahasa Jawa

PARAMASASTRA


A. Tembung Lingga lan Andahan

Têmbung Linggå

Inggíh punika têmbung íngkang dèrèng éwah sakíng aslinipún: tulis, turu, tuku.

Têmbung Andahan

Inggíh punika têmbung íngkang sampún éwah sakíng lingganipún:

- tulis dados nulisi,

- turu dados nurokaken,

- tuku dados daktukoni.

Têmbung lingga sagêd éwah dados têmbung andhahan, sabab:

1. angsal wéwahan:

a. dipun wéwahi ing sangajenging tembung wéwahan,

wéwahan sangajêng têmbung naminipun Atêr atêr: m, n, ny, dak, ko di, ké, sa, pa, pi, pra, kuma, kapi, kami

b. dipun wéwahi ing sawingkingipun têmbung,

wéwahan sawingkinging têmbung naminipun Pênambang: ku, mu, é, èn, an, i, aké, a, na, ana, né.

c. angsal sêsêlan: in, um,

jupuk – jinupuk, gantung – gumantung.

2. dipun rangkêp:

a. sadaya: watuk – watuk, bola –bali

b. ngajêng: têtuku, papadha, paparing,

c. wingking: cêngèngès, cekikik

3. dipun campur (cambor) kaliyan têmbung sanès:

baya – pakéwuh.

4. dipun cêkak (wantah) : dhuwit – dhit, bocah—cah

B. Bab Rimbag (Kedadosanipun Tembung)

Rimbag jinisipûn kathah sangêt.

1. Rimbag Tanduk:

punika têmbúng ingkang angsal atêr atêr anuswara (suwara irung): m, ng, n, ny.

Rimbag Tanduk wonten 3 warni:

a. Tandúk Kriya Wantah: balang – mbalang, gambar – nggambar.

b. Tandúk i kriya: jalúk – njaluki, tulis – nulisi

c. Tandúk ké kriya: tuku – nukokaké, sapu – nyapokaké.

Cathetan:

tuku – nuku,

sapu – nyapu

Mênawi aksara wiwitaning têmbung dados sêtunggal kaliyan atér atêr anuswara dipun wastani luluh.

Caranipun Ngudhal Têmbúng:

Nyaponi : Lingganipun sapu, angsal ater rater : ny, angsal

panambang: i, rimbagipun: tanduk i kriya.

2. Rimbag tanggap:

Tembung Lingga ingkang ater ater tripurusa (dak, ko, di), ater ater ka lan seselan in,

Rimbag tanggap kapérang dados 6 warni:

a. tanggap utama purusa tiyang (kapisan)

- tanggap utama purusa wantah: dak jaluk, dak tulis.

- tanggap utama i kriya: dak tukoni, dak pangani

- tanggap utama purusa ké kriya : dak gambaraké, dak lungguhaké

b. tanggap madyama purusa (tiyang nomer 2)

- tanggap madyama purusa wantah: kojaluk, kotulis

- tanggap madyama purusa i kriya: kotukoni, kopangani

- tanggap madyama purusa ké kriya: kogambaraké, kolungguhaké

c. tanggap pratama purusa (tiyang nomer 3)

- tanggap pratama purusa wantah : njaluk, ditulis

- tanggap pratama purusa “i” kriya: ditukoni, dipangani

- tanggap pratama purusa “ké” kriya: digambaraké, dilungguhaké

d. tanggap ka: ater ater ka = di

- tanggap ka wantah: kajaluk, katulis

- tanggap ka “i” kriya: kajalukan = dijaluki – katanduran – ditanduri

- tanggap ka “ké” kriya: kajalukaké, katulisaké

e. tanggap na, wujudipun seselan in, tegesipun = di

- tanggap na wantah: jinaluk, tinulis

- tanggap na “i” kriya: jinalukan = dijaluk, tinulisan = ditulisi

f.  tanggap tarung, tegesipun: pada déné, tulung – tinulung, obong tingobong.

Cathetan:

Panambang “i” wonten ing tanggpan “ka” lan tanggap “na” éwah dados “an”

3. Rimbag Bawa:

Rimbag bawa inggih punika tembung lingga ingkang angsal ater ater: “ké”, “a”, “ma”,  “kuma”, “kapi”, lan seselan “um”.

a. bawa “ka”, wujudipun ater ater “ké”, ateges mboten jarag.

- bawa “ka” wantah: kacemplung, kobong saking obong.

- bawa “ka” wisésana: kacemplungan, kobongan.

b. bawa “ha”, wujudipun ater ater “a” lan ater ater “ma”

akalung, akembang, asikil tegesipun nganggo/duwé.

Maguru tegesipun golèk ilmu marang.

c. bawa “ma”, wujudipun seselan “um”: gumantung, gumagus,  dumunung, kumenthus.

d. bawa “kuma”, “kami”, “kapi”, ateges: sing : kumawani, kamigilan,  kapi-lara.

e. bawa “ma” tundha, ateges tansah : turun temurun, gulung gemulung.

Cathetan:

tembung madukun, maguru, asring dipun anggep bawa “ma” dupèh ater ateripun “ma”, punika mboten leres, leresipun bawa “ha”.

Kedah dipun bèntènaken antawisipun tembung:

- ko-obong = tanggap madyama wantah

- ke-obong (kobong) = bawa “ka” wantah

- ka-obong = tanggap “ka” wantah

4. Sananta.

Sananta pandapukipun: dak + tanduk + …. “i” ke  dak, ingkang ateges arep.

a. sananta dak wantah: dak-njaluk = aku arep njaluk.

b. santana dak “i” kriya: dak-njaluki = aku arep njaluki.

c. santana dak “ké” kriya: dak-nukokaké = aku arep nukokaké.

d. wonten malih sananta dak lan di ingkang ateges arep.

sing: dak sregep, dak meneng, ditaberi, diprayitna.

5. Tandang.

Tandang pandapukanipun: dak + lingga “é” (ané) “né” panambang “é” (ané) “né” ateges arep.

a. tandang dak wantah: dak jupuké = arep dak jupuk.

b. tandang “i” kriya: dak jupukané = arep dak jupuki.

c. tandang “ké” kriya: dak jupukné = arep dak jupukaké.

Cathetan:

Sananta lan tandang nggadahi teges arep.

Sananta asalipun saking ukara tanduk manawi tandang saking ukara tanggap,

Tuladha:

Aku arep nulis layang dhisik – aku dak nulis layang dhisik.

Layangé arep dak tulis dhisik – layang dak tulisé dhisik.

Wonten ing tandang “é” wantah dados “é”

Wonten ing tandang “i” wantah dados “ané”

Wonten ing tandang “aké” wantah dados “né”

6. Sambawa.

Tembung sambawa nggadahi teges: sanajan, pengarep arep.

Upama.

Panambangipun “a”, “ana”, “na”.

Sambawa kapérang:

1. Sambawa saking tanduk:

a. Sambawa tanduk wantah: nggawa, conto: lan tegesipun,

- nggawa dhuwit arep dienggo apa wong ora ana  wong dodol = sanjan.

- mbakyu mbok nggawa lading ya, kena dienggo ngoncèki tebu = ngarep arep.

- ah, mau nggawaa wacan kena kanggo sambèn ora ndlongop ngéné iki = sanjan.

b. Sambawa tanduk “i” kriya: njalukana.

c. Sambawa tanduk “ké” kriya: njalukna.

2. Sambawa saking tanggap:

a. Sambawa tanggap wantah : dakgawaa, kogawaa, digawaa.

b. Sambawa tanggap “i” kriya: dak gawanana, kogawakna, digawanana.

c. Sambawa tanggap “ké” kriya: dakgawakna, kogawakna, digawana.

Cathetan:

1. Wantah panambang “a”

2. “i” kriya panambang “i” malih dados “ana”

3. “ké” kriya panambang “aké” malih dados “na”

7. Pakon – Préntah.

Rimbag Pakon kapérang:

1. Pakon tanduk:

a. Pakon tanduk wantah: nggawaa = akon nggawa.

b. Pakon tanduk “i” kriya: nggawanana = akon nggawani.

c. Pakon tanduk “ké” kriya: nggawakna = akon nggawakaké.

2. Pakon tanggap “ya” pandapukipun: lingga + “é” (an) “na”.

a. Pakon tanggap wantah: gawanen= akon supaya kogawa.

b. Pakon tanggap “i” kriya: gawanana = akon supaya kogawani.

c. Pakon tanggap “ké” kriya: gawakna = akon supaya kogawakaké.

Cathetan:

Wonten ing pakon tanduk:

1. Wantah, panambangipun “a”

2. “i” kriya, panambangipun “i”, malih dados “ana”

3. “ké” kriya, panambangipun “aké”, malih dados “na”.

Pandapukipun Sambawa tanduk sami sami kaliyan pakon tanduk, pramila kedah dipun èngeti tegesipun wonten ing ukara.

Upaminipun :

- ngGawaa dhuwit wong barangé wis entèk = Sambawa (dudu pakon).

- sésuk kowé nggawaa buku (pakon).

8. Guna:

Guna inggih tembung tembung ingkang angsal panambang “en” nggadahi teges nandang, saking lingganipun.

- wudunen, gudigen, singunen.

Kedah dipun bèntenaken tembung tembung: jupuken, panganen (pakon tanggap)

wantah, koroken, duduken = guna.

9. Adiguna:

Pandapukipun: “ke” + lingga + “en”, ateges leluwihan:

kedhuwuren, kebangeten, kabangen.

Bèntenipun: tembung tembung: kecemplung, kecipratan

= wisésa bawa ka.

- kegedhèn, kepinteran = adiguna.

10. Bawa  – Wacaka:

Pandapukipun “ka” + lingga + “an”, ateges: nedahaken panggènan utawi ndapuk tembung aran.

Bawa wacaka mboten ateges ndapuk tembung kriya.

- Kalurahan = panggènan, kabupatèn = panggènan.

- Kausikan = tembang aran, kasugihan = tembung aran

Tembung tembung punika kedah dipun bèntenaken.

- kajalukan = dijaluki, tanggap “i” kriya

- kapinteran = bawa wacaka.

- kecemplungan = wisésana bawa “ka”.

11. Daya Wacaka:

Pandapukipun: “pa” + lingga + “an”, ateges panggènan utawi mangsa:

- pasuketan, pakuburan, panèn, padusan.

12. Kriya – Wacaka / Karana Wacana.

Pandapukipun : “pe” + tanduk + (“pe + tanduk + “an”)

- penulis = tukang nulis, karana wacaka

- penulisé = carané nulis, karana wacaka

Bèntenipun daya wacaka kaliyan karana wacaka:

daya wacaka saking tembung aran.

karana wacaka saking tembung kriya.

Kedah dipun bèntenaken tembung:

gorèngan = olèh olèhané nggorèng, kaliyan tembung:

penggorèngan = papan kanggo nggorèng.

13. Tembung Rangkep:

Tembung rangkep inggih punika tembung ingkang dipun ungelaken ambal kaping kalih.

Tembung rangkep wonten 3 warni:

1. Dwilingga: lingganipun dipun rangkep.

a. dwilingga wutuh: bocah bocah, réka réka.

b. dwilingga salin swara ngarep: dhuwat – dhuwit.

c. dwilingga salin swara mburi: jarèn jérèn, téla télé.

d. dwilingga salin swara kabèh: modhang mèdhèng, gonjang ganjing.

2. Dwipurwa: wanda ingkang wiwitan dipun rangkep: jejaka,  tetuwuhan.

3. Dwiwasana: wanda ingkang wekasan dipun rangkep: cengèngèsan, cekakaan.

14. Tembung Jamboran (Majemuk).

Tembung jamboran, tembung kalih utawi langkung ingkang dipun  gandhèng dados satunggal.

1. Jamboran wutuh.

Jamboran wutuh wonten 3 golongan:

a. ingkang tegesipun sadrajad: gedhé cilik, boya pakéwuh.

b. tembung ingkang kaping kalih dados katranganipun tembung ing kapisan: kandhang jaran, jambu wer.

c. tembung ingkang kapisan dados katranganipun tembung ingkang kaping kalih: brata yuda, wijaya kusuma.

2. Jamboran tugel: wancahan.

Jamboran tugel tembung kalih ingkang dipun cekak:

- kakkong, dhekwur, kongèl.

Cathetan:

Kedah dipun bèntenaken antawisipun jamboran tugel kalayan kérata basa.

- kakkong: asalipun saking tungkak bokong.

- dhélik: asalipun saking tembung gedhé cilik.

Jamboran tugel asalipun saking kalih tembung.

Manawi kérata basa asalipun pancèn satembung lajeng

dipun othak athik supados mathuk.

- tembung tebu, dipun othak athik dados manteb ing kalbu.

- tembung kathok, dipun othak athik dados ngangkaté saka sithok.

Tembung Wancah.

Tembung wancah tembung ingkang dipun cekak.

Warni warnining tembung ingkang dipun wancah:

1. Namanipun laré/tiyang sepuh:

- Mulyana dados Mul utawi Yan.

- Sutana dados Tana utawi Ton.

- Suminah dados Minah utawi Min.

- Pawirareja dados Pawira

- Wangsadimeja dados Sadimeja.

2. Namanipun panggènan:

- Kartasura dados Tasura.

- Imogiri dados Mogiri.

- Boyolali dados Yolali.

3. Wicalan (etungan):

- ji, ro, lu, pat, ma, nem, tu, lu, nga, luh.

4. Tembung krama kawancah dados madya krama.

- punika dados nika.

- mangga dados ngga.

- dhateng dados teng.

5. Tembung jamboran (Jamboran tugel).

- gedhé cilik dados dhélik.

- endhèk lemu dados dhèkmu.

- gedhé bagus dados dhégus.

C. Ater ater, panambang, seselan lan tegesipun.

Wisésana inggih punika tembung tembung ingkang angsal panambang “an”.

01. Entan éntan kados : gunungan, pasaran, kalèn.

02. Pirantos kanggé : kukusan, garisan, ayakan.

03. Angsal angsalipun : gorèngan, batikan, gawéyan.

04. Mangsa : panèn, padusan, suntikan.

05. Gampil : mutungan, kalahan, getasan.

06. Sami déné nglampahi : salaman, biten guyon.

07. Dolanan : jaranan, pasaran, tangisan.

08. Nganggé : bebedan, sabukan, kelambèn.

09. Nanggap : wayangan, réyogan.

Tegesipun Ater ater Anuswara:

01. Nyambut damel : jenu, macul, medhang.

02. Nganggep : mbapa, ngadi, mbibi.

03. Dados : mbatur, nyantrik, nyudagar, nuwani.

04. Nuju dhateng : minggir, ngulon, munggah.

05. Damel : nggulé, ngabon, nyambel.

06. Nyukani : nyadhong, makani, nyandhangi, nyamaki.

07. Kados : mbodoni, mbisu, ndésani, ngetumbar, mucuk eri.

08. Saben tiyang nampi : niji, ngloro, matang liter.

09. Nambahi : ndhuwuraké, ndawani, nggedhèni.

10. Ngetrapaken : nglambèni, napèni, nyetuti.

11. Saweg wancinipun : mbosoki, ngretegi.

Tegesipun Ater ater Sa:

01. Satunggal = sèket, sakebo, samèter.

02. Sabarang = sakarepé, sawaregé, sasenengé.

03. Nunggil = sabantal, saomah, sakamar.

04. Kalih / karo = salapaké, sauwité.

05. Sami kaliyan = sagunung, sapitik.

06. Ngantos = sabubaré, saénaké.

07. Saben = saasiné, sadinané.

08. Angger = sakoberé, saénaké.

Tegesé Ater ater Pa / Pé:

01. Srana  = pasumbang, pangudi.

02. Tukang = pangendhang, padhang, pamomong.

03. Ukuran mangsa = sapenginang.

04. Ukuran   panjang, tebih  = panjangkah, pandulu, pabalang.

05. Carané / patrapé = panulisé, panggambaré.

06. Panggènan = pakuburan, panepèn, pagadéyan.

07. Mangsa  = panèn, padusan.

08. Pirantos  = pembesut, penyakit, penulak.

09. Tiyang ingkang dipun  = paukuman, panembahan.

Seselan lan Tegesipun:

Seselan namung 4 warni: “er”, “el”, “um”, “in”.

- crekot, saking tembung cekot tegesipun pating/pijer.

- trambal, saking tembung tambal, tegesipun pating/kathah.

- dlèwèr, saking tembung dèwèr, tegesipun pating/pijer.

- sliri, saking tembung siri, tegesipun pating.

Seselan “er” lan” “el” wonten ing salebeting tembung, racakipun lajeng dados satunggal kaliyan tembung wau, saéngga lingganipun tembung wau mboten saged cetha.

Déné ingkang saged cetha lingganipun menawi kaseselan “um” lan “in”.

01. Tumandang lingganipun tandang tegesipun kriya.

02. Rumujak, lingganipun: rujak, tegesipun: nedheng nedhengipun.

03. Kumaki, lingganipun:  kaki, tegesipun: anggepé kaya.

04. Jinambak, lingganipun: jambak, tegesipun: di ………….

05. Tinulis, lingganipun: tulis, tegesipun: di …………

Menawi aksara wiwitan tembung wonten “w”, “p’, “b”, lajeng éwah dados “k” utawi   “g”.

- ayu – kumayu, tegesipun: anggènipun kados …….

- emping – kumemping, tegesipun: saweg eca ecanipun dipun ……

- wasis – kumasis, tegesipun: kados tiyang …….

- pinter – kuminter, tegesipun: kados tiyang ……

- bagus – gumagus, tegesipun: kados tiyang ……

Tegesipun Tembung Dwi Lingga.

01. Naminipun barang : orong orong, alap alap, nget nget.

02. Nglampahi padamelan : omah omah, udan udan.

03. Kathah : gedhé gedhé, jembar jembar, omah omah.

04. Sanget : asin asin, seru seru, gedhé gedhé.

05. Tansah : lali lali, ora ngerti ngerti.

06. Sanajan : alon alon, empuk empuk, anggeré.

07. Mangsa / wanci : bedhug bedhug, soré soré.

08. Saepolipun : dawa dawané, murah murahé.

09. Boten susah : ora isan isin, ora rikah rikuh.

Tegesipun Tembung Tembung Dwipurwa / Dwiwasana.

01. Boten tentu barangipun : tetuku, lelara, gegaman.

02. Nganggé/damel : gegriya.

03. Murugaken : pepeteng, bebungah, lelethek.

04. Pating : cengèngèsan, cekakaan.

Bab II – Ukara Lan Pangudhalipun.

Ingkang dipun wastani ukara inggih punika rerangkèning tembung sawatawis ingkang saged mujudaken / nglahiraken gagasanipun tiyang.

A. Péranganipun ukara:

Ukara kedadosan saking pérangan ingkang baken, jejer lan wasésa.

Supados ukara kala wau saged sampurna tegesipun, asring ukara punika dipun wéwahi.

katrangan.

Warni warnining katrangan :

a. Katrangan lésan kang nandang (pelengkap penderita).

b. Katrangan lésan kang pinarih (pelengkap penyerta).

c. Katrangan lésan kang tumindak (pelengkap pelaku).

d. Katrangan mangsa: wis, lagi, arep, kapan, dhèk wingi.

e. Katrangan panggènan: ing kono, ngomah, ing pasar.

f. Katrangan kaanan (kawontenan): kanggé nerangaken wasésanipun – banget, cetha, kepénak.

Tulada Ngudhal Ukara Miturut Kalinggihanipun (Kalungguhané).

a. Kucing iku | mangan | tikus |

1                      2           3

1. jejer, 2. wasésa, 3. lésan kang nandang

b. Simbok | nukokaké | layangan | adiku |

1                   2                  3               4

1. jejer, 2. wasésa, 3. lésan kang nandang, 4. lésan kang tumindak

c. Aku | diwènèhi | dhuwit | mbakyu |

1           2                  3                4

1. jejer, 2. wasésa, 3. lésan kang nandang, 4. lésan kang tumindak

d. Suk embèn | bapak | arep | mundhutaké | klambi | aku | menyang Sala |

1                   2           3                   4                    5            6                  7

1. katrangan mangsa, 2. jejer, 3. katrangan mangsa, 4. wasésa, 5. lésan kang nandang, 6. lésan kang pinurih, 7. katrangan  panggonan

e. Gunung iku | dhuwur | banget |

1                  2                3

1. jejer, 2. wasésa, 3. katrangan kahanan

f. Si Ali | mangané | ademenakaké |

1             2                     3

1. jejer, 2. wasésa, 3. ktrangan wasésa

g. Omahé | bapak | arep | didol | suk embèn |

1            2             3          4              5

  1. jejer, 2. katrangan jejer, 3. katrangan mangsa, 4. wasésa, 5. katrangan mangsa.

h. Sayak | abang kaé | reged | banget |

1                2                 3              4

1. sayak, 2. katrangan jejer, 3. wasésa, 4. katrangan kahanan

B. Warni warnining Ukara.

Miturut Pandapukipun, Ukara, wonten:

1. Ukara genep (ukara lamba).

2. Ukara boten genep (ukara gothang).

3. Ukara rangkep (ukara majemuk).

1. Ukara ganep sakedhikipun kedah wonten jejer lan wasésanipun, sok ugi wonten katranganipun.

Tuladha:

- Saidi mlaku

- Bocah nakal kaé dolan mrénê.

2. Ukara boten ganep (ukara gothang) kapérang:

a. gothang jejeripun.

- rénéya sedhéla baé !

- Tukokna rokok !

b. gothang wasésanipun:

- Sajaké Simin !

- Dudu Adiku !

c. gothang jejer lan wasésanipun:

- Kala wingi !

- isih loro !

- Ora !

3. Ukara rangkep inggih punika ukara ingkang panjang kadadosan saking kalih ukara lamba utawi langkung. Ukara rangkep kapérang malih:

a. Ukara rangkep sadrajad, Tuladha:

- Aku nulis, adiku maca buku, simbok olah olah,

- Wong iku gemi, mulané dadi sugih.

- Sepisan dhèwèké sregep, ping pindhoné pancèn pinter.

b. Ukara rangkep raketan. Tuladha:

- Simbok menyang pasar, déné aku kon tunggu warung.

- Siman mbèlèh pitik, adiné mbubuti, simbok kang ngolah.

- Dhèk wingi pité isih ditunggangi, dhèk mau wis dicolong uwong.

c. Ukara rangkep tundha.

Wonten ing salebeting ukara tundha wonten baboning ukara, inggih punika ukara ingkang dados undheraning gineman lan wonten gatranipun (anak kalimat).

Gatra wonten pinten – pinten warni:

a. gatra jejer:

ukara ukara ingkang dados gegentosing jejer,

Guruku .. .. , ndukani aku (ukara lamba).

Wong kang mulang | aku | ndukani aku |

1                          2              3

1. gatra jejer, 2. wasésa, 3. lésan kang nandang

b. gatra wasésa:

ukara ingkang dados gegentosing wasésa.

Panjaluké .. .. , dituruti (ukara lamba).

Panjaluké | aku sregep sinau |

1                      2

1. jejer,     | 2. gatra wasésa   |

c. gatra lésan:

ukara ingkang dados gegentosing lésan.

Aku ngleksanani panjaluké (ukara lamba).

Aku ngleksanani | apa | kang dikarepaké |

1                      2                    3

1. jejer, 2. wasésa, 3. gatra lésan

d. gatra katrangan:

ukara ingkang dados gegentosing katrangan.

Simin arep mulih sésuk (ukara lamba).

Simin arep mulih | menawa aku | wis bali saka Sala

1                            2                          3

1. jejer, 2. wasésa, 3. gatra katrangan

Caranipun Ngudhal:

Simin arep mulih, menawa aku wis bali saka Sala.

Simin  = jejer

arep mulih = wasésa

arep  = katrangan mangsa

menawa aku bali saka Sala = gatra katrangan

menawa  = katrangan sarat

aku  = jejer gatra katrangan

wis  = katrangan wektu (wekdal) gatra katrangan

bali  = wasésa

saka Sala = katrangan panggènan gatra katrangan.

II. Ukara Miturut Suraosipun.

Miturut suraosipun ukara kapérang:

a. ukara carios (carita)

b. ukara pitakèn

c. ukara pakèn (pakon)

d. ukara pangajak

e. ukara panjaluk (panedha)

f. ukara pangajeng ajeng (pangarep arep)

g. ukara prajanji

h. ukara upami (umpama)

Déné tuladanipun supados damel piyambak.

III. Ukara Miturut Kawontenanipun Jejer Wasésa lan Lésan.

Ukara Kapérang:

a. Ukara tanduk (kalimat aktif).

Tetengeripun ukara tanduk menawi wasésanipun angsal ater ater  anuswara lan jejeripun nindakaké wasésa.

- Simin mangan

- Ali nggambar.

b. Ukara tanggap (kalimat pasif).

Tetengeripun ukara tanggap wasésanipun angsal ater ater:

“dak”,  “ko”, “di”, “ko”, lan seselan “in”.

Déné jejeripun nandang wasésanipun.

- Sapiné wis diedol

- Dhuwité arep dakjaluk.

c. Ukara nominal.

Ukara nominal inggih punika ukara ingkang wasésanipun sanès tembung kriya, nanging tembung: aran, wilangan, kaanan.

- Gunung iku dhuwur

- Pitikku putih mulus

- klambiku nem iji, lan sapanunggilanipun.

Bab III – Panyilahing Tembung (Jinising Tembung)

A. Jinising tembung kalarasaken kaliyan basa manca.

1. Tembung Kriya (Verb);

sadaya tembung ingkang nerangaken tumindak padamelan:

nulis, mucal, nyawang, lan sapanunggilanipun.

2. Tembung Aran (Substantive);

sadaya tembung ingkang mastani namaning barang ing maujud utawi ingkang dipun anggep maujud (abstrak):

buku, kursi, angin, sétan, kapinteran, ngèlmu, lan sapanunggilipun.

3. Tembung Kawontenan (kaanan = ajective);

sadaya tembung ingkang nerangaken kawontenanipun barang:

gedhê, dawa, ireng, kumaki, merdika, lan sapanunggilipun.

4. Tembung Katrangan (Adverb);

sadaya tembung ingkang nerangaken kawontenanipun kriya:

mesthi, mau, banget, mbokmenawa, lan sapanunggilipun.

5. Tembung Sesulih (pronoun):

sadaya tembung ingkang dados sesulihipun barang maujud utawi ingkang kaanggep maujud: punika kapérang dados 5 golongan:

a. Tembung Purusa (tiyang): aku, kowé, dhèwèké, anu, banget, mbokmenawa, lan sapanunggilipun.

b. Tembung Darbé: ku, mu, e,

c. Tembung Pitedhah (pitudhuh): iku, kaé, kuwi, punika.

d. Tembung Pitakèn: sapa, apa, endi, ngendi, kepriyé, lan sapanunggilipun.

e. Tembung Panggandhèg: kang, sing, ding.

6. Tembung Wicalan (wilangan : cacah) = numeral: siji, loro, sapisan, saméne, sawatara, lan sapanunggilipun.

7. Tembung Panggandhèng (conjunction):

Tembung ingkang kanggé nggandhèng ukara utawi tembung:

lan, sarta, tur, kathik, mulané, sarèhné, lan sapanunggilipun.

8. Tembung Panggenah (artikel): sing, sang, ponang, lan sapanunggilipun.

9. Tembung dunung (preposition):

Tembung ingkang nedahaken enggon/enering barang: ing, ngarep, mburi, menyang, déning, lan sapanunggilipun.

10. Tembung Panguwuh (interjection) = panyuru:

Tembung ingkang mratélakaken panguwuh / sesambat:

lo, wah, wo, adhuh, toblas, lan sapanunggilipun.

A. Tulada Ngudhal Ukara Miturut jinising Tembung.

Manawi bab ingkang kapengker ngudhal ukara miturut kalenggahaning / pangkating tembung, inggih punika madosi jejer, wasésa, lésan lan warni warnining katrangan, ing bab punika ngudhal jinising tembung inggih punika madosi tembung tembung ingkang kadadosaken saking tembung kriya, tembung aran, sesulih, wilangan lan sapanunggilipun.

Terkadhang wonten malih supados ngudhal tembung, inggih punika tembung wau dipun padosi lingganipun, ater ater, panambang, lajeng kalebet rimbag punapa.

Tuladha ukara.

Mau ésuk aku ketekanan tamu saka Sragèn.

Miturut lenggahing tembung:

aku                         = jejer

katekanan               = wasésa

tamu                       = lésan kang tumindak

mau ésuk                = katrangan mangsa

saka Sragèn            = katrangan panggonan

Miturut Jinising Tembung:

mau ésuk = tembung katrangan wayah

aku = sesulih

katekanan = kriya

tamu = tembung aran

saka = tembung dunung

Sragèn = tembung aran.

Miturut Pandapuking Tembung:

mau ésuk = tembung jamboran

aku = lingga

katekanan = lingganipun teka angsal ater ater ke lan panambang an, kalebet tanggap ka i-kriya.

tamu, saka, Sragèn = tembung lingga.

Tuladha malih :

Bocah cilik, adiné Mariyem iku, nukokaké jeruk adiku.

Miturut jinising tembung:

bocah = tembung aran

cilik = tembung kaanan

adiné = tembung aran

Mariyem = tembung aran

iku = tembung sesulih

nukokaké = tembung kriya mawa lésan

adiku = tembung aran.

Miturut Lenggahing Tembung;

bocah cilik = jejer

adiné Mariyem iku = katrangan jejer

nukokaké = wasésa

jeruk = lésan kang nandang

adiku = lésan kang pinurih.

Miturut Pandapuking Tembung:

bocah cilik = tembung jamboran

adiné Mariyem = tembung jamboran

iku = lingga

nukokaké = n + tuku + aké + tanduk ké kriya

jeruk = tembung lingga

adiku = tembung andhahan: adi + ku

adiné = tembung andhahan: adi + é.

Bab IV – Panyeratipun Basa Jawi Mawi Aksara Latin

A. Panganggènipun Aksara Ageng:

1. Kanggé nyerat irah – irahan (bab).

2. Aksara ing wiwitaning ukara.

3. Kanggé nyerat nama mandiri.

Upami: Musi, Paimin, Ciamis. pasopati, lan sapanunggilipun.

4. Cekakan, upami: ABRI.

5. Ingkang kaanggep wigatos: Ingkang Maha Wikan.

……. badhé leladi dumateng Nusa, Bangsa, lan Agama.

B. Ingkang Adaan Sanget Panyeratipun:

1. Ponorogo leresipun: Panaraga

sopunika leresipun: sapunika

Bongsa leresipun: bangsa

2. Sepélé, mréné, gègèr, kètèl, kabèh, Swanten “é” lan ‘è” kedah kaserat mawi “e” lan pratandha layar nginggilipun.

3. Kuthuk, dhuwur, kathok, kodhok

Aksara t kaserat dados “th”

Aksara d kaserat dados “dh”

4. kluwak, luwak, kuwat, kowat. Swanten “u” utawi “o” kasusul ing swanten “a” kedah mawi aksara manda.

5. sekalian, kadang kadéyan, liyané, sampéyan

Pindahipun swanten “i” utawi “é” dhateng swanten “a” mawi aksara manda swara  “y”.

Bab V – Unggah Ungguhing Basa

A. Katrangan:

Basa Jawi punika pepak sanget, ngantos tiyang manca manawi badhé nyinau basa Jawi asring rumaos kewalahan, amargi saking kathahing sinonim tembung Jawi, caranipun ngetrapaken basa antawisipun tiyang ingkang bènten umur umuranipun utawi derajatipun lan malih pancèn wonten tembung tembung Jawi ingkang ing basa sanès boten wonten utawi boten matis. Upaminipun tembung mangan: sinonimipun (dasanamanipun): maem, dahar, madhang, malah taksih kathah panganggènipun ing basa kasar.

Antawisipun laré kaliyan nèm nèman sampun boten cak – cakanipun, semanten ugi antawisipun nèm nèman kaliyan tiyang sepuh lan sapanunggilanipun. Lan malih asring wonten tembung Jawi ingkang ing basa sanès boten wonten (dèrèng dipun sumerepi) upaminipun tembung: kadingarèn, upil, karipan, maido, lan sapanunggilanipun.

Manawi dipun tingali saking pandapuking tembung, kathah sanget éwah éwahipun, margi saking pepaking ater ater (awalan), seselan sarta panambang (akhiran) punika badhé katerangaken ing wingking.

Déné unggah ungguhing basa inggih punika caranipun ngetrapaken basa dhumateng tiyang ingkang dipun ajak gineman.

B. Unggah ungguhing Basa.

1. Basa Ngoko.

Basa ngoko, kapérang:

a. Ngoko Lugu,

wujudipun tembung tembungipun ngoko sadaya.

dipun ginakaken.

1. Dhateng sesami ingkang sampun kulina.

2. Dhateng kapernah nèm (anak, putu, murid, sémah).

3. Manawi pinuju ngunandika.

4. Wonten ing buku buku karangan (wucalan).

b. Ngoko Andhap Antya Basa,

wujudipun: ngoko, krama inggil.

dipun ginakaken:

1. Dhateng tiyang ingkang langkung enèm nanging langkung inggil derajatipun.

2. Priyantun kaliyan priyantun ingkang kulina ngoko.

Tuladha:

Apa sliramu mengko sida tindak pasar mundhut bakal klambi?

c. Ngoko Andhap Basa Antya,

wujudipun: Ngoko, krama inggil dipun selingi krama.

dipun ginakaken: antya – basa.

Tuladha:

Coba panjenengan pirsani, bapak ora saéstu tindak, la kaé lagi maos buku.

2. Basa Madya:

Basa madya dipun ginakaken tiyang tiyang ingkang boten nggatosaken basa ingkang saé, racakipun tiyang padhusunan utawi paredèn lan tiyang pekenan.

Tuladha Basa Madya: nika, niku, ajeng, teng, nèk, saweg, napa, pripun, samang dika, lsp.

Basa Madya Kapérang:

a. Madya Ngoko, wujudipun ngoko, madya.

Tuladha:

Nèk dika ajeng tuku akèh mengké kula wèhké rada murah.

b. Madya – Krama,

wujudipun: Madya kaliyan krama.

Tuladha:

Dos pundi ta samang nika, sinjang saéné kados ngaten kok diwastani awon.

c. Madya Antara,

wujudipun: Madya krama, krama inggil.

dipun ginakaken:

1. Priyantun dhateng tiyang kapernah sepuh nanging mimpang drajad.

2. Garwa priyantun.

3. Priyantun kaliyan priyantun ingkang sampun kulina.

Tuladha:

Napa panjenengan ajeng ngersakaken mirsani bioskop, nèk kersa ngga kula dèrèkaken.

3. Basa Krama,

Basa Krama kapérang:

a. Kramantara,

wujudipun krama thok krama lagu.

dipun ginakaken:

1. Kanca kanca ingkang déréng kulina.

2. Wonten buku buku karangan (wucalan).

Tuladha:

Nuju satunggiling dinten pun Kancil saweg mlampah mlampah wonten sapinggiring lèpèn.

b. Muda Krama,

wujudipun: Krama lan krama inggil.

Basa Muda krama  basa ingkang saé lan alus piyambak.

Ingkang ngginakaken:

1. Tiyang nèm dhateng tiyang sepuh.

2. Murid dhateng gurunipun.

3. Priyantun kaliyan priyantun.

Tuladha:

Kula dipun dhawuhi bapak guru, supados matur kaliyan bapak, manawi bapak guru bénjing dinten Minggu badhé tindak dhateng dalemipun bapak.

c. Krama Inggil,

wujudipun: Muda krama, namung tembung: mu- dalem, aku – abdi dalem, kowé – panjenengan dalem. dipun ginakaken tumrap para luhur / ratu.

Tuladha:

Abdi dalem boten saged sowan ngarsa dalem, amargi anakipun dalem saweg sakit.

d. Wreda krama,

wujudipun: krama nanging ater ater lan panambang boten dipun kramakaken.

Tuladha:

Manawi diparengaké griyané ingkang kilèn punika kula enggènané.

“di”, “é”, “aké” boten dipun kramakaken.

e. Krama désa,

Krama désa punika basanipun mesthinipun boten wonten kramanipun kapeksa dipun kramakaken, wonten malih mesthinipun sampun dipun kramakaken margi saking kirang maremipun lajeng dipun kramakaken malih.

Tuladha:

- jaran, kramanipun kapal dados kepel.

- dhuwit, kramanipun arta dados yatra

- tuwa, kramanipun sepuh dados sepah

- belo, kramanipun dados belet

- dhelé, kramanipun dados dhekeman

- Boyolali, kramanipun dados Bajulkesupèn

4. Basa Kedhaton,

Basa kedhaton dipun ginakaken para abdi dalem kraton manawi pinuju gineman kaliyan ratu.

Tuladha:

- manira = aku

- pakènira = kowé

- enggah = inggih

- darbé = duwé

- boya = ora

- besaos = bae

5. Basa Kasar,

Basa kasar dipun anggé tiyang urakan, tiyang paben, tiyang saweg nepsu, lsp.

Pokokipun boten sekéca manawi dipun mirengaken. mila ing ngriki boten perlu dipun rembag.

Cathetan:

Andharan ing nginggil punika prasasat kantun dados téori, kirang praktis.

Mila limrahipun kaum guru namung mlètèr murid murid mawi basa krama ingkang mèh mesthi kanggénipun: Muda krama.

C. Ngulinakaken Nggladi Basa

Ngèngeti ing jaman samangké kathah para muda ingkang sampun ical tata kramanipun saha unggah ungguhipun, langkung langkung bab anggènipun ngginakaken basa krama kados kados kathah ingkang risak boten kanten kantenan.

Umpaminipun, laré nèm dhateng tiyang sepuh, murid dhateng gurunipun langkung langkung para nèm nèman dhateng para nèm nèman sanèsipun.

Racakipun anggènipun ngetrapaken basa klèntu lan ing ngrika ngriki taksih campur bawur kaliyan basa Indonesia, kamangka mesthinipun kita punika saged nglairaken gagasan utawi pikiran sarana tembung tembung basa Jawi ingkang murni.

Pramila kanggé ngudi basa ingkang saé kita saged ngulinakaken nganggé basa ingkang saé ing saben saben wekdal, wonten ing bebrayan ngagesang. Para putra nèm nèman saha ingkang taksih alit sageda dipun tuntun, dipun gladi nganggé basa ingkang saé wonten ing nggriya utawi sadéngah panggènan. Kanggé ngulinakaken para putra ing ngriki perlu dipun sukani latihan latihan sageda kanggé apalan.

Sumber : Heru Subrata (mbahbrata)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.