Filosofi Keris


Keris…

COntoh Keris : Keris Bali

Keris merupakan senjata tradisional yang paling terkenal di nusantara. Keris tidak hanya digunakan oleh masyarakat jawa yang merupakan pusat peradaban di nusantara, tetapi juga oleh beberapa suku di tanah air. Senjata tradisional yang sampai sekarang masih sering dipergunakan dalam upacara-uparaca adat ini memiliki keunikan tersendiri. Senjata-senjata yang pada umumnya seperti pedang, tombak dan panah yang didesain untuk mampu melukai lawan dengan jarak jangkauan tertentu. Contohnya tombak, dengan panjang yang mencapai dua meter, belum lagi ditambah dengan jangkauan tangan sebuah tombak dapat melukai dari jarak paling tidak dua meter, lebih dari tinggi badan dan lebih dari tiga kali jangkauan tangan, terlebih lagi jika tombak dilemparkan kepada lawan, maka sekuat apa lemparannya, sejauh itulah si tombak dapat melukai. Sama halnya dengan pedang yang kurang lebih panjangnya satu meter dan panah yang mampu mencapai sasaran dalam jarak ratusan meter, pada umumnya senjata memang didesain untuk memiliki jangkauan yang jauh. Namun tidak dengan keris. Keris hanya memiliki panjang maksimal lima puluh sentimeter, separuh panjang pedang, atau seperempat panjang tombak. Dengan panjang yang lima puluh sentimeter itu sebilah keris sudah mampu menembus perut orang dewasa.

Menurut cerita masyarakat jawa. Orang-orang pada zaman terdahulu yang sehari-harinya akrab dan masih menggunkan keris sebagai senjata, untuk mencapai sasaran keris dapat terbang melayang menuju lawannya. Keris dipercaya memiliki ‘penunggu’ atau sejenis jin yang tinggal di dalamnya. Dari jin itulah sebilah keris dianggap sakti dan akhirnya memiliki pamor tersendiri.

Keris yang paling ampuh ditempa di bara api yang paling panas. Bayangkan jika besi yang digunakan sebagai bahan baku untuk membuat keris tapi tidak dipanaskan mencapai titik lelehnya. Apakah mungkin sebongkah besi itu dapat menajadi sebilah keris? Tentu saja tidak. Demikianlah dengan manusia. Untuk menjadi seorang manusia sejati yang memiliki jati diri, kematangan dan kemampuan, Allah tentu akan menguji kita dengan berbagai macam cobaan, rintangan, pahit dan derita. Cobaan-cobaan hidup itulah yang walau pahit terasa namun sebenarnya telah membentuk kita menjadi manusia yang bijak, dewasa dan matang dalam berpikir.

Keris dibawa dengan diselipkan di belakang pinggang. Maksudnya adalah agar tidak terlihat, dalam arti kekuatan, ilmu, keterampilan, kekayaan dan segala kelebihan seseorang yang diberikan Allah kepadanya tidak perlu diperlihatkan dan dipertontonkan kepada orang lain. Dan baru digunakan manakala deperlukan saja. Tentunya untuk kebaikan. Tidak semua manusia mampu bersikap rendah hati, perlu pengendalian diri yang baik untuk menjadi seorang yang rendah hati.

Lihatlah lekukan di bilah keris. Walaupun meliuk-liuk ke kanan dan ke kiri, namun pada ujungnya tetap lurus dari pangkalnya. Demikian juga dengan perjalanan hidup manusia. Manusia terlahir bersih dan suci dari dosa. Berbagai macam tipu daya dunia kelak akan membawa manusia yang seharusnya berjalan lurus menjadi menyimpang. Walaupun berjalan menyimpang, suatu saat manusia harus ingat kemana ia seharusnya melangkah, setelah sadar telah menyimpang maka kembalilah ia melangkah di jalan yang benar. Sayangnya goadaan tidak hanya datang sekali, berkali-kali godaan membuat kita menyimpang, berkali-kali pula kita harus sadar dan kembali menuju jalan yang benar. Dan pada akhirnya setelah tetap berada di jalan yang lurus. Bayangkan jika hidup kita yang mulai dari kecil, remaja, dewasa hingga tua selalu dalam keadaan beriman walaupun godaan seringkali membuat kita menyimpang, ternyata di akhir hayat meninggal dunia dalam keadaan telah melakukan maksiat dan belum sempat bertobat, terlebih lagi jika kita menutup mata untuk yang terakhir kalinya dalam keadaan tidak beriman atau kafir. Astaghfirullah hal adzim, betapa sia-sianya hidup kita. Mari kita senantiasa berdo’a kepada Allah semoga kita diberikan kekuatan untuk sadar dan bertobat dari kesalahan dan semoga kita meninggal dunia kelak dalam keadaan beriman, amin.

Dengan seizin Allah manusia membuat keris dari bongkahan batu. Manusia sendirilah yang mendesainnya dan memberinya makna. Namun mengapa beberapa dari kita tidak bisa mengambil pelajaran dan bahkan kalah dari benda bentukan tangannya ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: