Materi IPA : Perkembangbiakan Tumbuhan

PERKEMBANGBIAKAN TUMBUHAN

Bunga Terompet

Perkembangbiakan Tumbuhan Secara Generatif

  • Dialami oleh tumbuhan berbiji.
  • Alat perkawinannya berupa bunga
  • Dilakukan melalui proses penyerbukan dan pembuahan.
  • Penyerbukan adalah peristiwa jatuhnya serbuk sari (jantan) ke kepala putik (betina)
  • Pembuahan adalah pertistiwa bertemunya sel kelamin jantan dengan sel kelamin betina.

Bagian-Bagian Bunga

  1. Tangkai bunga à  penhubung batang dengan bunga
  2. Dasar bunga à  ujung tangkai bunga yang membesar
  3. Kelopak bunga à  bagian dekat dasar bunga yang menyelimuti bunga saat bunga masih kuncup
  4. Mahkota bunga à  bagian paling indah dari bunga dengan bentuk dan warna yang berbeda untuk tiap jenis bunga
  5. Benang sari à  alat kelamin jantan yang terdiri dari tangkai sari dan serbuk sari.
  6. Putik à  alat kelamin betina yang terdiri dari kepala putik, tangkai putik, bakal buah, bakal biji (berisi lembaga dan sel telur)
  7. Biji à  merupakan calon tumbuhan baru

Jenis-Jenis Penyerbukan

  1. Penyerbukan sendiri à  serbuk sari jatuh ke kepala putik bunga itu sendiri.
  2. Penyerbukan tetangga à  serbuk dari jatuh ke kepala putik bunga lain tetapi masih dalam satu pohon.
  3. Penyerbukan silang à  serbuk sari jatuh ke kepala putik bunga dari pohon lain tetapi masih satu jenis tumbuhan.
  4. Penyerbukan bastar à  serbuk sari jatuh ke kepala putik bunga dari pohon lain yang sejenis tetapi berbeda varietas.

Perantara Penyerbukan

  • Penyerbukan oleh hewan
  1. Bunga memiliki mahkota bunga besar dan warna mencolok
  2. Bunga menghasilkan nektar
  3. Bunga mengeluarkan bau yang khas
  4. Ketika hewan mengisap nektar serbuk sari menempel pada kakika dan terbawa ke kepala putik bunga yang lain
  5. Contoh hewan perantara adalah lebah, kelelawar, burung, honey possum, kupu-kupu
  • Penyerbukan oleh angin
  1. Bunga memiliki serbuk sari yang banyak, kecil, dan ringan
  2. Bunga memiliki tangkai sari yang panjang
  3. Bentuk mahkota bunga kecil atau tidak memiliki mahkota
  4. Kepala putik bunga terentang keluar
  5. Angin menerbangkan serbuk dari sebingga dapat hinggap di kepala putik bunga lain
  6. Contoh penyerbukan pada padi, jagung
  • Penyerbukan oleh air
  1. Ketika hujan, air hujan jatuh ke serbuk sari, sehingga serbuk sari terbawa air jatuh mengenai kepala putik.
  • Penyerbukan oleh manusia
  1. Serbuk sari bunga dihantarkan ke putik oleh manusia
  2. Contoh pada vanili

Perkecambahan Biji

  • Cadangan makanan dari kotiledon merupakan energi bagi perkecamhahan biji.
  • Kotiledon masih terus mensuplai energi sampai tumbuhan baru dapat berfotosintesis sendiri.
  • Bagian biji yang pertama kali tumbuh adalah calon akar yang berfungsi untuk menyerap air dan nutrisi.
  • Kemudian tunas tumbuh menembus tanah dengan ujung tunas dilindungi oleh pelindung tunas.
  • Pada monokotil pelindung itu disebut koleoptil.
  • Pada dikotil pelindung iut disebut hipokotil dan epikotil.
  • Tumbuhan monokotil tumbuh berkecambah dengan satu daun.
  • Tumbuhan dikotil tumbuh berkecambah dengan dua daun.

  1. Perkembangbiakan Tumbuhan Secara Vegetatif

Perkembangbiakan Vegetatif Alami

a. Spora

  • Ganggang

Spora terdiri dari zoospora dan aplanospora.  Zoospora memiliki bulu getar dapat bergerak bebas dalam air untuk berpindah tempat kemudian tumbuh dan berkembang menjadi individu baru.

  • Lumut

Spora terbentuk dalam kotak spora (sporangium).  Ketika sporangium pecah, spora keluar kemudian diterbangkan angin dan jatuh di tempat yang sesuai dan tumbuh menjadi protonema (tumbuhan lumut muda)

  • Tumbuhan Paku

Spora dibentuk daun khusus pembentuk spora yang disebut sporofil.  Spora terdapat pada kotak spora (sporangium) yang tertumbul di sorus.  Sorus terdapat pada bagian bawah sporofil.  ).  Ketika sporangium pecah, spora keluar kemudian diterbangkan angin dan jatuh di tempat yang sesuai dan tumbuh menjadi tumbuhan paku baru.

b. Tunas

Tunas terbentuk dengan cara membuat tonjolan kecil pada tubuh tumbuhan induk yang makin lama makin besar.  Tonjolan ini kemudian tumbuh dan berkembang menjadi tumbuhan baru.  Contoh :  pisang dan bambu

c. Akar Tinggal (Rhizoma)

Akar tinggal adalah batang yang tumbuh mendatar di atas tanah.  Ciri-cirinya:

  • Berbentuk seperti akar
  • Berbuku-buku seperti batang
  • Pada tiap buku terdapat daun yang berubah menjadi sisik
  • Pada setiap ketiak sisik terdapat mata tunas

Contoh :  jahe, kunyit, temu lawak

d. Umbi Lapis

Umbi lapis adalah umbi yang berlapis-lapis dan di bagian tengahnya terdapat batang yang sangat pendek (cakram) dan tunas sebgai calon individu baru (siung).  Contoh :  bawang merah, bawang putih.

e. Umbi Batang

Umbi batang adalah batang yang mengembung karena berisis cadangan makanan.  Pada permukaan umbi terdapat daun yang berubah menjadi sisik dan pada setiap ketiak sisik terdapat mata tunas.  Contoh :  kentang dan gembili.

f. Daun

Pada tepi duan terdapat tunas yang dapat tumbuh bila diletakkan di tanah.  Contoh :  cocor bebek.

g. Geragih (stolon)

Geragih adalah batang beruas-ruas yang tumbuh menjalar.  Ruas ini bila mengenai tanah akan tumbuh akar dan tunas baru.  Contoh :  stoberi.

Perkembangbiakan Vegetatif Buatan

a. Mencangkok

Syarat tumbuhan yang dapat dicangkok adalah batang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda, ukuran tidak besar, tegap, mulus, berwarna coklat muda.  Cara mencangkok :

  1. Buat keratan melingkar berjarak 3 – 5 cm.
  2. Kupas bulit batang sampai kebilatan kambiumnya.
  3. Bersihkan lapisan kambium dengan cara mengerok.
  4. Keringkan cangkokan beberapa hari (2 – 4 hari).
  5. Tutup cangkokan dengan tanah gembur yang dibalut sabut kelapa atau plastik.

Contoh :  mangga, rambutan.

b. Menyetek

Menyetek adalah menanam potongan bagian batang tanaman yang memiliki mata tunas.  Cara menyetek :

  1. Pilih batang yang sudah cukup tua (batang bagian bawah).
  2. Potong dan biarkan beberapa hari di tempat teduh.
  3. Tanam batang pada tanah yang sudah dicangkul.

Contoh :  singkong

c. Mengeten

Mengeten sama dengan menyambung yaitu menggabungkan batang bawah dengan batang atas tanaman yang berbeda dari satu keluarga.  Cara mengeten :

  1. Potong secara diagonal batang bawah dan batang atas (ukuran batang atas dan batang bawah harus sama).
  2. Buat celah pada batang atas dan batang bawah.
  3. Temukan batang atas dan batang bawah sampai kambium dari kedua batang bertemu.
  4. Ikat dengan tali rafia.

Contoh :  durian dengan mangga, terung dengan tomat

d. Merunduk

Merunduk adalah membengkokkan sebagian cabang kemudan  membenamkannya ke dalam tanah.  Cara merunduk :

  1. Rundukkan batang tanaman.
  2. Benamkan batang di dalam tanah.
  3. Potong batang yang dirundukkan jika sudah mengeluarkan banyak akar.
  4. Tanam hasil rundukkan di tempat lain.

Contoh :  arbei, apel, bugenvil.

e. Menempel

Menempel dilakukan untuk menggabungkan dua sifat tanaman yang berbeda.  Cara menempel :

  1. Iris kulit batang yang akan ditempel berbentuk segi empat.
  2. Tunas yang akan ditempel diiris sebesar irisan pada batang.
  3. Irisan tunas ditempel pada batang kemudia diikat.
  4. Jika tunas sudah mulai tumbuh, batang bagian atas tunas dipotong agar tunas tumbuh lebih cepat.

Contoh :  jeruk, alpukat, rambutan

Iklan

Turut Berduka Cita

Inna Lillahi Wa Innailaihi Roji’uun

KH. Abdurrahman Wachid - Gus Dur (4 Agustus 1940 - 30 Desember 2009)

Selaku masyarakat Indonesia dan khususnya sebagai warga Nahdlatul Ulama (NU), saya mengucapkan

“Turut Berbelasungkawa Sedalam-dalamnya Atas Wafatnya Guru Besar Bangsa Ini  : KH. ABDURRAHMAN WACHID”.

Semoga segala amal baiknya diterima oleh Allah SWT dan segala kekhilafnnya diampuni oleh-NYA. Amiiiieeeen…

Bangsa Indonesia akan selalu mengenangmu dan akan menjadikan engkau sebagi Inspirasi dalam membangun bangsa ini ke depan

Membimbing Keterampilan Membaca Anak

Membimbing Keterampilan Membaca Anak

Membimbung Anak Membaca

Sebelum memutuskan mengajar membaca, kita harus mempertimbangkan tiga pertanyaan

1) Mengapa perlu mengajarkan membaca?

2) Mengapa bahasa atau tulisan harus diajarkan pada anak kita?

3) Berapa banyak waktu yang akan digunakan untuk mengajar membaca?

Keterampilan membaca dan menulis dapat memberikan makna penting untuk komunikasi anak-anak dengan hambatan konsentrasi dan atensi, atau masalah bahasa lainnya. Kita ingin anak-anak belajar sebanyak mungkin keterampilan yang mereka perlukan untuk hidup dalam kehidupan yang wajar. Untuk itu, orang tua harus mempertimbangkan kemampuan dan kebutuhan setiap anak sebelum memutuskan apakah mengajar membaca atau tidak.

Dalam beberapa kasus membaca mungkin lebih penting bagi seorang anak untuk mempelajari bahasa kedua. Namun, apabila anak-anak kita mengalami hambatan bicara, konsentrasi, dan atensi, sebaiknya yang pertama diajarkan hanya satu bahasa, apakah bahasa nasional ataukah bahasa asing. Bahasa asing dan bahasa nasional sangat membingungkan jika diajarkan pada seorang anak secara bersamaan. Untuk membaca lebih dari satu tulisan alfabet (A sampai Z) dalam dua bahasa pada waktu hampir bersamaan membuat anak bingung. Membaca dua bahasa ini akan lebih membingungkan lagi apabila dua kata ditulis dalam perintah berlawanan. Mengingat membaca juga melibatkan suatu kerja memori anak tingkat tinggi, seorang anak dapat lebih mudah belajar membaca suatu bahasa jika dia dapat bicara bahasa itu dengan mudah.

Beberapa keterampilan diperlukan jika seorang anak belajar membaca, tidak sekadar membaca nama dia dan bilangan yang mewakili angka-angka. Anak ini memerlukan banyak keterampilan yang dapat diajarkan dengan berbagai cara. Keterampilan tersebut meliputi:

1) Pengenalan, menjodohkan, dan menyalin bentuk serta membedahkan detail dalam gambar.

2) Koordinasi mata dan tangan, seperti ketepatan kontrol dan gerakan tangan.

3) Kemampuan melengkapi suatu gambar atau bentuk yang belum selesai, mengikuti pola, mengingat dan menyusun urutan gambar seri atau bentuk yang diberikan.

4) Membedakan bunyi, mengingat urutan bunyi, kata-kata atau perintah, menirukan suatu suara yang telah didengar. 5) Mengingat benda-benda yang dilihat dan didengar.

Keterampilan (1) sampai (4) merupakan keterampilan persepsi yang terdiri dari keterampilan (1) sampai (3) sebagai persepsi visual dan keterampilan (4) yaitu persepsi pendengaran. Seorang anak yang memiliki masalah persepsi visual mempunyai penglihatan normal, tetapi pada fungsi luhurnya di otak tidak mampu menganalisis apa yang dilihatnya sehingga anak tidak mampu menginterpretasikan dan memaknai apa yang dilihatnya. Pada anak yang mengalami masalah pada persepsi suara/bunyi, anak sering salah memaknai apa yang didengar (meskipun dia tidak tuli).Beberapa anak mempunyai masalah dengan satu atau lebih keterampilan persepsi, tetapi kemampuan lainnya baik. Dengan demikian, perkembangan cepat bisa dicapai anak apabila orang tua/guru mengenali dengan benar masalah anak dan membimbing anak mengatasi problem membacanya.

Bermain dengan puzzle dan melihat gambar di buku-buku, menggambar, bermain dengan melukis dan plastisin, dapat membantu anak menyadari bentuk. Menjodohkan gambar dapat dilakukan oleh anak dengan memasangkan kartu-kartu atau bentuk-bentuk, atau gambar-gambar untuk dapat dijodohkan. Seorang anak dengan kemampuan bahasa yang terbatas akan mampu membaca atau menulis beberapa kata.

Agar anak dapat belajar membaca dengan mudah harus dikembangkan melalui beberapa hal.

1) Dia harus senang mendengarkan cerita dan mampu menceriterakan kembali, mengurutkan kejadian dengan benar.

2) Dia mampu menyebutkan beberapa gambar yang telah dikenalkan, dan menceritakan apa yang telah terjadi pada situasi yang ada dalam gambar.

3) Dia harus bicara dengan mudah tentang apa yang dia sendiri telah lihat, kerjakan, atau dengar.

4) Dia harus mulai menggunakan kalimat pendek, sederhana, dan lengkap dalam pembicaraan normal.

5) Dia harus menyadari perbedaan bunyi-bunyi, menangkap, dan memainkan irama bunyi bahasa.

6) Dia harus memahami dan melaksanakan perintah yang didengar.

Apabila anak telah menguasai beberapa keterampilan tersebut, anak dapat mulai belajar membaca. Pertama anak belajar membaca dan menulis namanya sendir. Selanjutnya dia harus belajar mengenal, menelusuri, menyalin bentuk-bentuk angka 1 sampai 10. Pada tahap ini, anak tidak harus mampu menghitung, tetapi membaca angka-angka yang akan memungkinkan dia menggunakan uang, membaca nomor rumah, nomor telefon, nomor kendaraan bermotor. Ketika dia dapat mengenali dan menulis angka-angka dan namanya, dia dapat mulai menelusuri dan menyalin alfabet. Selain itu, kartu-kartu dengan nama-nama benda dapat diletakkan di sekitar ruangan di rumah/kelas, dan anak diminta menjodohkan kartu dan menyebutkan/menceritakan nama kartu yang sama yang telah ditemukan, misalnya: ditempelkan pada jendela, pintu, meja, dsb. Anak tidak akan mulai benar-benar membaca kata, tetapi dia akan mengenali bentuk, mulai melihat tulisan yang melambangkan kata-kata, dan kata-kata yang melambangkan nama-nama benda.

Sumber : berbagai sumber

Bahasa dan Membaca

Bahasa dan membaca

Ragam Bahasa

Bahasa adalah kode yang disepakati oleh masyarakat sosial yang mewakili ide-ide melalui penggunaan simbol-simbol arbitrer dan kaidah-kaidah yang mengatur kombinasi simbol-simbol tersebut (Bernstein dan Tigerman, 1993). Kode linguistik mencakup kaidah-kaidah kompleks yang mengatur bunyi, kata, kalimat, makna dan penggunaannya. Komunikasi adalah proses di mana individu-individu bertukar informasi dan saling menyampaikan buah pikirannya. Komunikasi merupakan proses aktif yang menuntut adanya pengirim yang menyandikan atau merumuskan pesan. Komunikasi juga menuntut adanya seorang penerima yang menafsirkan sandi atau memahami pesan tersebut. Banyak isyarat non-linguistik yang dapat membantu atau menghambat pengirim dan penerima dalam komunikasi lisannya. Tetapi komunikasi melalui bacaan dan tulisan sepenuhnya tergantung pada bahasa penulis dan pembacanya, pada pengetahuannya tentang kata-kata dan sintaks. Tetapi, pertama-tama, komunikasi melalui membaca dan menulis dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tulis yang alfabetik, tergantung pada pengetahuan dan kesadaran penulis dan pembacanya tentang prinsip-prinsip utama bahasa tulis itu, yaitu prinsip fonematik atau alfabetik dan prinsip morfematik. Pemahaman prinsip-prinsip ini tergantung pada pemahaman tentang struktur bunyi dan bagian-bagian bermakna dari kata-kata seperti unsur-unsur gramatik. Tetapi karena membaca juga berarti menyampaikan makna struktur ortografik tertulis yang mewakili kata-kata dan kalimat, maka kosa kata dan pemahaman tentang berbagai struktur kalimat juga merupakan hal yang sangat penting untuk perkembangan membaca.

Bahasa merupakan suatu sistem kombinasi sejumlah komponen kaidah yang kompleks. Bloom dan Lahey (1978) memandang bahasa sebagai suatu kombinasi antara tiga komponen utama: bentuk, isi dan penggunaan. Bentuk suatu ujaran dalam bahasa lisan dapat digambarkan berdasarkan bentuk fonetik dan akustiknya, tetapi bila kita hanya menggambarkan bentuknya saja, maka kita akan terbatas pada penggambaran bentuk atau kontur fitur permukaan ujaran saja. Ini biasanya dilakukan berdasarkan unit fonologi (bunyi atau struktur bunyi), morfologi (unit-unit makna berupa kata atau infleksi), dan sintaks (kombinasi antara berbagai unit makna).

Isi bahasa adalah maknanya atau semantik- yaitu representasi linguistik dari apa yang diketahui seseorang tentang dunia benda, peristiwa dan kaitannya. Representasi linguistik tentang isi bahasa tergantung pada kode – yaitu suatu sistem isyarat arbitrer yang konvensional – yang memberi bentuk kepada bahasa (Bloom dan Lahey, 1978).

Menurut Bloom dan Lahey (1978), penggunaan bahasa terdiri dari pilihan perilaku yang ditentukan secara sosial dan kognitif berdasarkan tujuan si penutur dan konteks situasinya (hal. 20). Kaidah-kaidah yang mengatur penggunaan bahasa dalam konteks sosial juga disebut pragmatik (lihat misalnya Bernstein dan Tigerman 1993). Pragmatik mencakup kaidah yang mengatur bagaimana kita berbicara dalam bermacam-macam situasi. Pembicara harus mempertimbangkan informasi tentang pendengarnya dan harus memahami berbagai isyarat non-linguistik yang dapat menghambat atau mendukung penyampaian pesannya. Kesadaran akan penerima pesan dan kebutuhannya akan membantu pengirim menciptakan situasi komunikasi yang optimal.

Anak mungkin berkesulitan dalam mengembangkan pengetahuan yang sesuai usia dalam salah satu dari ketiga dimensi bahasa (isi, bentuk atau penggunaan), dan kesulitan dalam satu dimensi dapat mengakibatkan kesulitan dalam dimensi lainnya. Kesulitan dalam dimensi bentuk mungkin terbatas hanya pada fonologi, tetapi kesulitan dalam mengembangkan pengetahuan dan pemahaman tentang fonologi bahasa dapat mempengaruhi perkembangan dalam bidang morfologi dan sintaks.

Masalah dalam kemampuan mengembangkan kemampuan bahasa yang sesuai usia di dalam berbagai dimensi bahasa biasanya akan menimbulkan masalah dalam pengembangan kemampuan membaca dan menulis yang sesuai usia. Masalah-masalah ini mungkin terkait dengan perkembangan membaca pada berbagai tingkatan. Kesulitan dalam dimensi bentuk dapat mengakibatkan masalah dalam “memecahkan” kode bacaan. Anak yang bermasalah dalam mengembangkan pengetahuan tentang bentuk bahasanya dapat bermasalah dalam memahami struktur bunyi dan dalam memahami hubungan huruf-bunyi yang diperlukan untuk “memecahkan kode” bahasa tulis. Di pihak lain, anak yang berkesulitan memahami isi bahasa mungkin akan dapat “memecahkan kode” dengan mudah, tetapi mereka mungkin berkesulitan dalam memahami apa yang dibacanya. Siswa juga mungkin berkesulitan dalam membaca karena mereka berkesulitan dalam menggunakan bahasa. Tujuan pengajaran membaca adalah membaca untuk belajar (atau membaca untuk kesenangan). Pembaca harus dapat masuk ke dalam semacam dialog dengan penulis. Untuk belajar dan mengerti suatu teks diperlukan pengembangan strategi untuk memahami maksud penulis. Teks yang berbeda memerlukan strategi yang berbeda untuk memahaminya.

Perkembangan membaca – usia prasekolah

Prestasi belajar yang memadai dan perilaku sosial dan penghargaan diri yang pantas adalah faktor-faktor penting untuk mengembangkan kehidupan yang pantas di dalam norma-norma masyarakat kita. Sejak tahun pertama kehidupannya di dunia ini, anak sudah mulai mengembangkan norma-norma yang mendasari kehidupan masyarakatnya. Ini dilakukannya melalui komunikasi dan aktivitasnya dalam kehidupan sehari-hari dengan lingkungan sekitarnya. Selama tahun pertama, mereka ambil bagian dalam percakapan dengan menggunakan bahasa tubuh dan isyarat non verbal. Kemudian sedikit demi sedikit mereka belajar kode linguistik bahasa, bagaimana kode merepresentasikan benda, kejadian dan bermacam-macam hubungan antara benda-benda dan kejadian-kejadian, dan mereka belajar cara mengirim dan menerima pesan dengan bahasa lisan.

Untuk mempersiapkan anak pada pengajaran membaca di kelas-kelas awal, sebaiknya mereka diekspos pada lingkungan bahasa yang berkualitas tinggi – terutama di rumahnya, tetapi juga di panti asuhan anak dan di taman prasekolah jika anak tersebut masuk ke lembaga-lembaga ini. Waktu terbaik untuk mulai berbagi buku dengan anak adalah pada masa balita. Banyaknya pengalaman dengan bahasa lisan dan bahasa tulis, dari masa bayi hingga awal masa kanak-kanak, sangat mempengaruhi keberhasilan anak dalam membaca di masa-masa selanjutnya. Anak membutuhkan aktivitas yang dapat mereka nikmati dan pengalaman keberhasilan, tanpa dipaksakan di luar tahap perkembangannya. Bahkan ketika anak belum dapat mengeja, mereka belajar dari upayanya untuk menulis. Bahkan ketika anak belum dapat membaca, mereka belajar dari orang yang membaca untuknya. Anak yang terekspos pada kosa kata yang canggih dalam percakapan yang menarik atau dalam bacaan yang didengarnya akan belajar kata-kata yang kelak akan dibutuhkannya untuk mengenali dan memahaminya pada saat sudah mulai belajar membaca. Berbicara dengan orang dewasa merupakan sumber eksposur terbaik bagi anak ke kosa kata baru. Berbicara itu penting – semakin bermakna dan berisi, semakin baik. Bahkan di negara-negara di mana banyak orang tua yang buta huruf, mereka dapat melihat buku gambar dengan anaknya dan berbicara tentang apa yang mereka lihat dalam buku tersebut – jika bukunya memang ada.

Selama usia prasekolah, kebanyakan anak secara bertahap semakin sensitif terhadap bunyi, juga terhadap makna kata-kata yang didengarnya. Sensitivitas ini adalah apa yang kita sebut sebagai kesadaran fonologi. Mereka dapat mengenali sajak dan menikmati puisi atau lagu bersajak. Mereka menceraikan kata-kata yang panjang menjadi suku-suku kata atau bertepuk tangan sejumlah suku kata yang terdapat dalam sebuah frase. Mereka menyadari bahwa ucapan beberapa kata seperti “dog”, “dark” dan “dusty” semuanya dimulai dengan bunyi yang sama. Mereka dapat menemukan kata yang tidak cocok (tidak bersanjak) dalam kelompok kata “house”, “tiger” dan “mouse”, dan mereka mungkin dapat menggabungkan bunyi-bunyi seperti /m/-/a/-/t/ dan /l/-/i/-/p/ menjadi “mat dan “lip”.

Walaupun anak-anak prasekolah yang lebih muda jarang memperhatikan segmen terkecil yang bermakna (fonem) dari sebuah kata, memperoleh kesadaran tentang adanya fonem ini merupakan aspek kesadaran fonologi yang lebih maju, yang menjadi semakin penting semakin anak mendekati usia sekolah. Ini karena huruf biasanya mewakili fonem. Itu adalah prinsip alfabetik (lihat misalnya Adams 1990). Lagu, permainan sajak, permainan bahasa dan sajak kanak-kanak merupakan cara terbaik untuk memupuk kesadaran fonologi pada usia prasekolah. Kegiatan-kegiatan ini juga mungkin akan sangat penting pada awal usia sekolah ketika anak sedang belajar prinsip alfabetik.

Kegiatan orang tua membacakan kepada anaknya di rumah dilihat sebagai persiapan yang sangat penting bagi anak dalam menghadapi tantangan pengajaran membaca di sekolah. (Untuk contoh, lihat Burns, Friffin & Snow, 1999). Persiapan ini akan sangat efektif bila orang tua melakukan tiga hal:

  • Mengembangkan teks
  • Merujuk pada pengalaman anak itu sendiri
  • Menyela kegiatan membaca dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

Mengingat kamampuannya bercerita dengan baik, bagi sebagian orang, televisi dapat dipandang sebagai pengganti kegiatan membaca. Akan tetapi, kekurangan ketiga kualitas ini dapat mengakibatkan program televisi yang baik pun tidak begitu efektif untuk mempersiapkan dasar bagi perkembangan bahasa dan membaca.

Perkembangan membaca dan faktor-faktor lingkungan
Sejumlah faktor lingkungan mempengaruhi perkembangan membaca. Beberapa di antaranya sudah dibahas di atas. Hasil berbagai penelitian menunjukkan bahwa tingkat melek huruf orang tua berperan penting dalam perkembangan membaca anak (Cox 1987), dan Chall, Jacobs dan Baldwin (1990) menemukan bahwa prediktor terkuat tentang kemampuan membaca dan pengetahuan kosa kata pada keluarga berpendapatan rendah adalah lingkungan melek huruf di rumah, pendidikan ibu dan tingkat ekspektasinya terhadap pendidikan anaknya, dan pendidikan ayah. Tetapi, secara umum, variabel maternal lebih berpengaruh terhadap perkembangan baca-tulis dan bahasa dibanding variabel ayah. Chall dan rekan-rekan kerjanya menjelaskan temuan ini timbul karena ibu menghabiskan lebih banyak waktu bersama anak-anaknya daripada ayah, membantu pekerjaan rumah, menjawab pertanyaan, membacakan cerita dan lain-lain. Tingkat minat ibu terhadap baca-tulis juga signifikan korelasinya dengan perkembangan membaca anak. Menurut Chall dan rekan-rekan, ekspektasi orang tua dan minatnya terhadap pekerjaan sekolah anaknya merupakan faktor terpenting, tidak hanya untuk perkembangan membaca tetapi juga untuk perkembangan semua mata pelajaran sekolah. Ekspektasi dan keterlibatan orang tua dalam pekerjaan sekolah anaknya harus dimotivasi jika kurang. Kurangnya dukungan dan keterlibatan dalam masalah sekolah anak lebih umum terjadi di negara-negara berkembang (lihat Alenyo, 2001) dan karenanya harus menjadi perhatian besar di beberapa negara.

Namun, penelitian etnografik menunjukkan secara jelas bahwa kemiskinan bukan faktor penentu utama untuk persiapan baca-tulis yang diperoleh anak di rumah (Adams 1990). Yang paling menentukan adalah kualitas kegiatan baca-tulisnya. Oleh karena itu, lingkungan yang miskin pun dapat mempersiapkan anak untuk belajar membaca di sekolah dengan baik selama mereka mempunyai buku untuk dibaca dan selama orang tua bersedia membacakan kepada anaknya. Tentu saja ini merupakan tantangan besar di negara-negara di mana para orang tuanya buta huruf dan sedikit sekali buku yang tersedia (Lihat Aringo 2001). Perkembangan baca-tulis merupakan tugas nasional, yang akan mempengaruhi perkembangan ekonomi dan sosial negara. Tantangan terbesar dalam meningkatkan tingkat baca-tulis tampaknya terletak pada kurangnya bahan bacaan yang tepat – baik di sekolah maupun di rumah, dan kurangnya jumlah buku yang tersedia bagi anak di kelas.
Kalaupun kemiskinan bukan merupakan faktor penentu utama kesiapan baca-tulis, Lyster (1998, dalam pers) menemukan bahwa pendidikan ibu merupakan prediktor penting untuk perkembangan membaca, meskipun dengan memperhitungkan faktor IQ. Karena pengaruh Genetik sejauh tertentu menjadi bahan pertimbangan dalam penelitian Lyster, hasilnya menunjukkan bahwa pendidikan ibu mungkin dapat menjadi bagian dari alat ukur konteks linguistik yang diciptakannya bagi anaknya. Bagaimanakah ibu yang lebih berpendidikan berkomunikasi secara linguistik dengan anaknya dibanding ibu yang kurang berpendidikan? Apakah mereka membacakan buku untuk anaknya lebih sering atau dengan cara yang berbeda dari ibu yang kurang berpendidikan? Apakah pencegahan gangguan membaca sebaiknya dimulai secara tidak langsung dengan mendidik orang tua? Penelitian oleh Whitehurst, Epstein, Angell, Payne, Crone ddan Fischel (1994) menunjukkan bahwa mendidik orang tua dari masyarakat sosio-ekonomi rendah tentang cara berinteraksi dengan anaknya pada saat mereka membacakan untuk mereka, berdampak positif terhadap perkembangan baca-tulis anak.

Dalam penelitian ini orang tua diminta untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dimulai dengan kata tanya “apa”, “mengapa”, “di mana” dan “kapan” pada saat sedang membacakan, untuk membantu anak memahami isi teks. Bahkan jika perkembangan membaca sejauh tertentu tergantung pada faktor biologi dan genetik, membaca adalah kemampuan yang sangat tergantung pada faktor-faktor lingkungan. Salah satu faktor tersebut, yang belum dibahas, adalah bahasa sehari-hari anak di rumah. Jika bahasa rumah berbeda dari bahasa yang dipergunakan ketika anak belajar membaca dan menulis, anak kemungkinan akan menghadapi banyak masalah. Oleh karena itu, jika seorang anak tidak dapat belajar membaca dan menulis dalam bahasa ibunya atau jika bahasa ibunya tidak mempunyai bahasa tulis, bahasa pengantar harus diajarkan kepada anak secara intensif di samping mengajarinya membaca dan menulis – dan bahkan sebelumnya jika memungkinkan (Lyster 1999). Situasi ini tampaknya merupakan realitas yang ada di negara-negara berkembang tertentu meskipun anak diharapkan belajar membaca dan menulis dalam bahasa ibunya.

Kesadaran Linguistik

Telah diterima secara luas bahwa terdapat hubungan yang kuat antara perkembangan membaca dengan kesadaran linguistik, yaitu kemampuan untuk merefleksikan bahasa lisan (Adams 1990; Goswani & Bryant 1990; Hagrvet 1989), dan bahwa upaya-upaya untuk menumbuhkan kesadaran fonologi yang dilakukan sebelum pengajaran membaca Itu dapat memprediksi keterampilan membaca nantinya (Mann 1991; Wagner & Torgesen 1987). Istilah kesadaran linguistik digunakan secara luas, yang mencakup bermacam-macam tugas, seperti menilai ada atau tidaknya persanjakan, kemampuan untuk menguraikan kata menjadi segmen-segmen bunyi, menghitung jumlah kata dalam kalimat dan jumlah suku kata dalam satu kata, mendeteksi morfem dalam kata-kata, dan menilai kebenaran sintaktik dan gramatik. Sebagaimana telah dikemukakan di atas, kesadaran fonologi adalah kemampuan anak untuk menganalisis struktur bunyi kata, sedangkan kesadaran fonemik mengacu secara spesifik pada kesadaran tentang adanya fonem-fonem (bunyi) yang berbeda-beda. Penelitian yang dimaksudkan untuk meningkatkan keterampilan membaca dengan memberikan latihan fonologi dan fonem kepada anak sebelum atau selama pengajaran membaca telah berhasil dengan baik (Bradley 7 Bryant 1983; Cunningham 1990; Hatcher, Hulmer & Ellis 1994; Lundberg, Frost & Petersen 1988).

Dibandingkan dengan kesadaran fonologi, kesadaran morfologi belum begitu banyak diperhatikan dalam penelitian tentang pengajaran membaca dan gangguan membaca. Sebuah morfem adalah unsur makna yang paling mendasar. Kesadaran morfologi adalah kemampuan untuk menyadari dan memanipulasi morfem-morfem, pasangan unit-unit kata terkecil yang mengandung makna.

Terdapat bukti bahwa ada hubungan antara kesadaran morfologi dan perkembangan membaca (Fowler & Liberman 1995). Henry (1993) menunjukkan bahwa pengetahuan siswa kelas tiga dan kelas lima tentang pola-pola morfologi serta kinerjanya dalam membaca dan mengeja meningkat setelah menerima pengajaran tentang bahasa asalnya dan pola morfem bahasa Inggris. Demikian pula, studi di Denmark melaporkan hasil yang menggembirakan dari suatu studi pelatihan yang mengajarkan morfologi kepada siswa Denmark usia sepuluh hingga dua belas tahun yang mengalami kesulitan membaca (Elbro & Arnbak 1996).

Lyster (1997, dalam pers) melaporkan dampak pelatihan kesadaran fonologi dan morfologi di taman kanak-kanak terhadap perkembangan ejaan dan membaca di kelas satu. Dampak pelatihan morfologi itu sangat jelas pada kelompok anak yang ketika intervensi dimulai sudah memiliki kesadaran fonologi yang sudah relatif baik. Oleh karena itu, Pelatihan terhadap anak-anak prasekolah yang bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan dan kesadaran morfologinya akan berdampak relatif kecil pada perkembangan membaca pada kelas satu sekolah dasar jika kemampuan fonologi anak itu rendah (lihat Fowler dan Liberman 1995 untuk pembahasan lebih lanjut). Di pihak lain, morfem mempunyai struktur fonologi. Oleh karena itu, pelatihan morfem akan juga berkontribusi pada perkembangan kesadaran fonologi. Jika anda membaca bahasa Inggris dan tahu tentang bentuk jamak yang berakhiran -s, struktur ortografik dengan akhiran -ing dalam kata-kata seperti singing dan dancing, dan berbagai awalan seperti un-dalam kata unhappy atau mis- dalam kata misbehave, maka akan mudah bagi anda memahami kata-kata itu. Memahami isi morfem-morfem ini juga akan membantu anak dalam mengembangkan kosa kata baru.

Mengetahui bahwa awalan un- di depan kata happy membuat kata tersebut mempunyai makna yang berlawanan, dapat membantu anak menciptakan kata-kata baru seperti unlikely, unsatisfied dll.

Perkembangan membaca dan gangguan membaca

Menurut model membaca dual-route (dua arah), ada dua strategi yang digunakan ketika membaca kata-kata (Coltheart 1978), yaitu strategi fonematik dan strategi ortografik. Model-model ini masih mendapatkan dukungan yang kuat.

  1. Strategi fonologi/fonematik melibatkan penggunaan kaidah konversi grafem-fonem untuk memperoleh akses leksikal ke stimulus tulisan, dan
  2. Strategi ortografik melibatkan akses leksikal langsung yang memetakan konfigurasi ortografik dari sebuah kata secara langsung ke penyimpanan visual internal di dalam leksikon (Siegel 1993).

Pengetahuan dan kesadaran morfologi merupakan satu elemen penting bila menggunakan strategi ortografik. Namun, sejauh tertentu, kemampuan awal anak untuk menggunakan kedua strategi tersebut tergantung pada keteraturan bahasa yang digunakan untuk membaca. Bahasa Inggris, misalnya, sangat tidak teratur dibanding bahasa Jerman dan bahasa Norwegia (lihat misalnya Hagtvet & Lyster, dalam pers). Satu fonem atau bunyi dalam bahasa Inggris sering kali digambarkan dengan banyak grafem, sedangkan sebagian besar bunyi dalam bahasa Norwegia selalu terkait dengan grafem yang sama. Dalam bahasa Inggris, bahasa tulis juga mempunyai lebih banyak grafem yang terdiri dari dua atau tiga huruf daripada bahasa Norwegia, misalnya, di mana sebagian besar bunyi hanya digambarkan dengan satu huruf atau satu grafem yang terdiri dari satu huruf.

Pelatihan keterampilan fonologi tampaknya mempunyai dampak yang sangat kuat terhadap membaca bila anak diajarkan tentang hubungan antara bunyi dan huruf dan bila pelatihan kesadaran fonemik dikaitkan secara eksplisit dengan tulisan (Ball & Blachman 1988; Bradley dan Bryant 1983; Hatcher, Hulme, & Ellis 1994). Pelatihan kesadaran morfologi juga akan lebih efektif jika aktivitas oral dikaitkan dengan tulisan. Sistem tulisan yang alfabetik biasanya digambarkan sebagai morfo-fonemik, karena representasi kata-kata sesuai dengan kombinasi antara prinsip morfemik dan prinsip fonemik.

Agar menjadi pembaca yang kompeten, anak harus menggunakan kedua prinsip tersebut (Adams 1990). Bila seorang anak belajar membaca atau mengeja, penting untuk pertama-tama mengases apakah anak tersebut tahu semua hubungan bunyi-grafem, dan apakah unit-unit yang lebih besar seperti morfem dapat langsung dikenalinya ketika dia membaca.

Wimmer dan Goswami (1994) menekankan bahwa untuk dapat membaca cepat dengan pemahaman, anak yang belajar membaca dalam ortografi yang alfabetik perlu mengembangkan strategi pengenalan kata secara langsung dan tidak belajar ucapan lewat penerjemahan grafem-fonem (hal. 102). Kesadaran akan prinsip ini mungkin penting untuk mengidentifikasi kata-kata secara cepat. Anak-anak yang belajar tentang prinsip morfologi bahasa tulis di samping prinsip alfabetik dapat memperoleh keuntungan tambahan bila mengidentifikasi kata-kata yang tertulis, setidaknya jika mereka sudah belajar hubungan antara huruf dan bunyi. Tampaknya mereka mampu mengidentifikasi struktur yang lebih besar, misalnya struktur yang mewakili unsur-unsur gramatik, secara lebih mudah dan lebih cepat dibanding anak-anak yang tidak memiliki pengetahuan tentang prinsip morfematik.

Pola-pola kesulitan membaca yang digambarkan dalam model-model seperti yang dikemukakan oleh Spear-Swerling dan Sternberg (1994) mungkin disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk faktor biologis dan lingkungan. Anak mungkin keluar dari jalur pada titik-titik tertentu menuju kemampuan membaca yang baik, dan perbedaan individual dalam hal temperamen, motivasi dan inteligensi secara keseluruhan mungkin terkait dengan variabel-variabel lingkungan untuk menentukan jalur belajar membaca yang akan diambilnya. Sekali seorang anak atau remaja “terperosok” ke dalam rawa ekspektasi negatif, motivasi yang rendah dan tingkat praktek yang rendah, maka akan semakin sulit bagi mereka untuk kembali ke jalan menuju kemampuan membaca yang baik (Spear-Swerling dan Sternberg 1994).

Anak-anak tertentu, khususnya mereka yang disleksia, tidak akan pernah mampu membaca dengan kecepatan tinggi dan akan selalu mengalami kesulitan mengembangkan kemampuan mengeja yang sesuai usia. Disleksia dipandang sebagai gangguan biologis yang dimanifestasikan dengan kesulitan dalam belajar membaca dan mengeja walaupun diberi pengajaran konvensional dan memiliki kecerdasan yang memadai (Snowling, 1987). Akan tetapi, penting untuk dikemukakan kembali bahwa disposisi genetik ini kecil dampaknya terhadap perkembangan jika intervensi dini pada masa kanak-kanak dan masa sekolah difokuskan pada pemberian program linguistik yang memuaskan kepada semua anak untuk pengembangan kemampuan membaca dan mengejanya – dan penting untuk diingat bahwa keterampilan membaca berkembang melalui latihan praktis. Semakin banyak anak membaca, akan semakin besar kemungkinannya untuk menjadi pembaca yang baik. Kenyataan ini juga berlaku bagi mereka yang mengalami kesulitan khusus mengembangkan keterampilan membaca yang sesuai usia yang disebabkan oleh faktor-faktor lingkungan, kognitif atau bahkan genetik seperti disleksia.

Sumber : berbagai sumber